SAJAK PENYESALAN
“Hari ini
bapak sakit”
Adikku
memberitahuku ketika aku tiba diwarung sepulang dari mengais sampah.kutemui
adikku menjaga warung sendiri. Sakit apa bapak? Pertanyaan itu terlintas
dipikiranku, setahuku sampai tadi pagi bapak baik-baik saja, bercanda dengan
adikku yang nomor empat yang masih berumur dua tahun kurang dua bulan. Aku
menyimpulkan mungkin bapak terlalu lelah.
Badan
yang kurus itu terbaring lemah di ranjang putih, disebuah ruangan yang tidak
terlalu besar namun luas dihuni beberap orang yang juga sedang sakit. Wanita
berseragam putih sesekali masuk ke ruangan itu dengan membawa keperluan pasien,
suster itu sangat garang, bahkan para penunggu pasien disitu sering
menggosipkannya, memang suster itu terlihat angkuh, bahkan tidak mau tersenyum
kepada penduduk miskin seperti kami.
Rumah
sakit ini tidak terlalu besar dan sudah sangat tua, lantainya sudah banyak yang
retak dan pecah. Dinding yang bercat-kan lumut hijau dan sebagian dihiasi
retakan kecil seperti akar rumput yang memanjang. Meskipun sangat tua, umur
rumah sakit ini sama dengan umur bapak, dan rumah sakit ini merupakan
satu-satunya rumah sakit yang ada di kampung halaman kami, dan lagi. Rumah
sakit ini menjadi harapan bagi para penduduk yang sakit termasuk bapak.
Lima
puluh lima tahun menjalani hidup susah, merantau ke kota-kota seperti Riau,
Kalimantan, Lampung, Jakarta dan masih banyak kota lainnya yang menjadi tempat
keluargaku mengais rupiah, namun kehidupan kami masih jauh dari layak.
Abangku
seorang pengangguran, hidup tidak jelas, pekerjaannya hanya memakan tulang
punggung orang tua sampai mereka tak berdaya. Marah jika tidak terkabul
keinginannya, dia juga jarang pulang ke rumah, sekalinya pulang pasti meminta
uang kepada orang tua. Hingga umur tiga puluh dua tahun masih belum menikah.
Aku
sendiri sibuk mengais rupiah dari setiap kantong sampah dan jalanan, umurku
jauh lima tahun dibawah abangku. SMP pun aku tidak tamat, karena keterbatasan
orangtuaku. Meskipun harus bertarung dengan terik matahari saat panas, dan
meski harus basah kuyup oleh hujan saat musim hujan, itu tidak membuatku
menyerah untuk demi bisa menyekolahkan adikku.
Adikku
yang nomor tiga masih sekolah kelas tiga SMA, aku bersyukur adikku masih bisa
sekolah sampai tingkat standar minimal anak belajar, dengan dibantu beasiswa
dari sekolah, membuat sedikit ringan beban orangtuaku. Aku selalu menekankan
dia untuk rajin belajar meski dengan kesibukan menemani ibuku menjaga warung
kecildi pinggir jalan. Aku berharap adikku bisa sedikit merubah nasib keluargaku,
dan kelak membantu adikku yang nomor empat kejenjang yang lebih tinggi.
Keluarga
miskin yang berusaha untuk tetap bertahan di kota perantauan. Kami sudah tidak
bisa kembali lagi ke kampung halaman, keluargaku sudah terjebak di kampung
terpencil di sudut kota Riau. Tidak sanggup menghirup udara segar kampung
kelahiran orang tuaku karena tidak adanya kemajuan ekonomi. Bahkan kami
terpuruk dalam kemiskinan, hidup dirumah tua, berdinding kayu, dengan atap
jerami. Kampung kecil ini menjadi pijakan terakhir bagi kami.
Begitu
jauhnya jarak antara kampung dan kota. Butuh waktu dua jam sampai disana. aku
pun harus berjalan kaki ke kota untuk mencari sampah. Terkadang akupun harus
pulang jalan kaki jika uang yang aku dapatkan tidak terlalu besar. Itupun harus
melewati sawah dulu selama setengah jam baru sampai rumah.
Kuperhatikan
setiap tubuh bapak yang terbaring, meski kami jarang berbicara namun aku tau,
bapak adalah kepala rumah tangga yang baik. Berjuang untuk keluarganya. Kami
jarang berkumpul dan mengobrol banyak, setiap aku pulang bapak masih sibuk
dengan pekerjaannya menganyam tikar. Paling, bapak hanya menyuruhku sholat dan
makan. Akupun terlalu lelah setelah pulang.
Tangan
yang dulunya kokoh, kini mulai keriput, kering, urat yang terlihat jelas
menandakan sekeras apa kehidupan bapak. Jari-jari yang hamper kehilangan
kukunya karena selama menjadi buruh di warung saat merantau bapak mendapat
tugas memotong ikan dan memeras jeruk. Badan bapak juga mulai menyusut. Dulu,,,
saat kehidupan kami berkecukupan. Aku masih bisa melihat bapak gemuk. Saat aku
masih kecil, kehidupan kami berkecukupan. Namun itu tidak lama sampai akhirnya
keluarga kami terpuruk seperti sekarang.
Uban memenuhi
rambut bapak, betapa selama ini beliau berfikir keras, berjuang untuk
menghidupi kami. Mata yang cekung dengan lingkaran hitam di sekitarnya
memperlihatkan bahwa bapak tidak pernah cukup tidur. Setiap malam terbangun
untuk sholat malam. Kaki yang penuh dengan kapalan dan tumit yang pecah. Begitu
perih melihat keadaan bapak yang seperti ini. Ditambah infuse yang sekarang
mengisi tubuh bapak untuk tetap bertahan. Semua itu membuatku berfikir betapa
selama ini bapak menanggung hidup kami sekkeluarga dengan susah payah sampai
bapak seperti ini. Menahan semua keinginannya demi keluarga dan hanya bisa
bermimpi tanpa bisa mewujudkannya.
Kusentuh
pelan lengannya yang kasar. Aku tau bapak sedang tidur. Pelan-pelan aku memijat
lengannya,, kakinya,, merasakan kulit yang bersisik dan kasar itu sambil
berfikir selama ini bapak mati-matian bekerja keras tidak peduli mengurus diri
hanya demi rupiah. Apa jadinya jika kami harus kehilangan bapak?..
Satu
tetes air mata jatuh diatas telapak kaki bapak. Cepat-cepat aku menghapusnya.
Takut bapak terbangun. Kucium kakinya, dalam hati aku berdo’a untuk
kesembuhannya. Air mataku tidak bisa kutahan. Takut bapak terbangun, aku
cepat-cepat keluar dari kamar. Aku menangis di depan pintu. Menangis sederas
air hujan yang sedang mengguyur tanah yang kering saat itu. Meratapi nasibku
dan keluargaku. Menahan diri untuk tidak mengeluh dan marah kepada yang Khaliq.
Berusaha untuk sabar atas takdir dan cobaan-NYA. Tiba-tiba, tangan lembut
menyentuh pundakku. Orang pertama nomor satu yang berarti untukku sebelum
bapakku mencoba menguatkanku. Air mataku semakin deras.. melihat ketegaran ibu
dalam menghadapi semua ini.
“yang
sabar ya ndok.. sholat dulu sana, do’akan bapak biar cepat sembuh”. Sambil
tersenyum dan mengelus pundakku ibu memberiku kekuatan.
Kuhapus
air mataku. Aku berusaha tersenyum. Aku sadar, aku tidak sekuat ibu. Aku tidak
mau membuat ikut terpuruk melihat keadaanku.
“iya
bu.. Reyna sholat dulu”.
Sebelum
meninggalkan kamar, aku melihat ibu masuk ke kamar bapak. Lagi-lagi kesedihan
merambat dalam tubuhku. Berhenti di relung hati, bertumpuk di dalamnya hingga
mendidih menciptakan gelembung kepedihan yang sangat. Ibuku, beliau adalah
sosok yang tegar. Sangat tegar. Meski bapak tidak bisa memberikan uang dan kehidupan yang layak, ibu tidak pernah
mengeluh dan menuntut bapak apalagi meninggalkan bapak. Ibu yang selalu member
bapak semangat disaat bapak putus asa. Membantu bapak dengan apa yang beliau
bisa. Member kekuatan anak-anaknya dan juga bapak saat abang bersikap kasar. Meskipun
dari luar ibuku terlihat begitu tua dengan rambut yang juga mulai beruban, baju
yang ala kadarnya, jarang memakai sandal karena harus bergantian dengan adikku,
namun bagiku ibu adalah sosok yang cantik.. cantik hatinya dan kuat imannya.
Aku tidak bisa membayangkan jika ibu harus kehilangan bapak.. “ya Allah… aku
mohon,, berilah kehidupan yang panjang untuk orang tuaku sampai beliau bisa
merasakan kehidupan yang enak”.
Setelah
mengambil air wudlu, aku bergegas masuk musholla. Mencari mukena untuk umum
yang ada di musholla dan sholat. Selesai sholat aku berdo’a untuk ibu dan bapak
juga keluargaku. Masih memakai mukena aku mengeluarkan kertas dari kantong
kresek dan pensil warna hitam yang aku temukan di tong sampah beberapa bulan
yang lalu. Aku mulai menulis.
Berjuta peluh yang sudah kau keluarkan untuk
keluargamu
Sampai semuanya menggenang menjadi lautan..
Seluas laut itu juga kebesaran hatimu
Menerima semua keadaan dengan bersyukur..
Pohon yang kekar pun jika tua akan semakin menguat
kayunya..
Tapi tidak denganmu.. semakin berkurangnya umurmu,,
tak menyurutkan kerasnya hati untuk tetap bertahan,,
Manusia hanyalah sebuah tanah.. meski kau berusaha
tetap kuat,, tulang yang menua itu akan rapuh.. Rapuh dengan sendirinya,
sedangkan selama ini yang membuatnya kuat hanyalah keimanan dan kerasnya hati..
Bapak… rohmu melebihi kuat tubuhmu.. aku yakin itu.
Dibalik keringnya kulit yang membungkus rapuhnya
tulang,,terdapat jiwamu yang kekar dan kuat. Itulah pohon yang kau miliki yang
menopangmu selama ini..yang membuatmu bertahan,,
Disaat ragamu ingin beristirahat sejenak saat ini..
bukanlah suatu harapan bagimu kan?? Kami tau,, yang bapak inginkan adalah
menjalankan aktifitas seperti biasa meskipun susah dari pada terbaring dengan
rasa sakit..lihatlah,, tangan anak-anak dan istrimu menunggumu, member do’a
untukmu.. begitupun denganku..
Saat ini yang aku minta hanyalah,, bernegosiasi
dengan Tuhan.. meminta-NYA untuk tidak terlalu lama bapak seperti saat ini..
Aku ingin menukarnya dengan diriku.. karena aku tahu
bapak,,, keberadaanmu sangat berarti dan dibutuhkan keluarga
Aku sudah menanggung sakit begitu lama. Dan aku
ingin Tuhan meringankanku.
Bapak… tidak cukup hanya ku katakan terima
kasih..atas semua yang telah kau berikan padaku.. aku ingin membalas dengan
nyawaku..
Jika memang Tuhan mengabulkan keinginanku,, aku
minta bapak mau menjaga kesehatan dan melindungi Ibu dan adik-adik.
Akan kubawa pesan ratapan kalian untuk ku katakana
pada Tuhan.. yaitu kebahagiaan kalian dan kehidupan yang layak.
¥αΩŠα
Empat tahun
kemudian
“Annisa..
anterin ibu ke bank ya,, mau transfer uang.”
“iya
bu,, Annisa mandi dulu yah.”
“yasudah,,
ibu tunggu di bawah.”
“ok!!.”
“oh
ya nak.. bapak kemana? Sudah berangkat?.”
“sudah
bu.. tadi bawa mobil ke pabrik.”
“oh..
yasudah..cepetan mandinya.”
Perempuan
baya itu kemudian menuruni tangga menuju ruang tamu yang cukup besar. Duduk
sambil menatap keluar jendela. Baru sebentar, perempuan itu bangkit dari
duduknya dan menuju meja yang ada disamping tv. Mengambil bingkai foto,
ekspresinya berubah seketika. Tersirat kesedihan yang mendalam memandangi
foto yang ada di tangannya.
“terimakasih
anakku.. meskipun kamu tidak bisa merasakan apa yang sudah kamu berikan kepada
keluarga.. ibu yakin nak.. kamu bahagia disana. Harapanmu sudah terkabul Reyna.
Ibu bangga nak.. padamu.”
Airmata
menetesi bingkai itu. Jemari perempuan itu menyusuri setiap foto. Mencoba
seolah-olah dia benar-benar bisa menyentuh wajah orang yang ada dalam foto itu.
Perempuan itu memejamkan mata. Berusaha meraskan bagaimana ketika dia bisa
menyentuh tubuh anaknya ketika masih hidup. Air matanya semakin deras.
Tiba-tiba tangan lembut menyentuh pundaknya.
“kakak
pasti bahagia bu… ibu jangan menangis, karena itu akan membuat kakak sedih
disana. Penderitaannya sudah berakhir karena selama ini kakak menahan kesakitan
yang sangat dalam yaitu kangker otak di kepalanya.” Annisa merangkul ibunya.
Berusaha menguatkan Ibu yang paling dicintainya itu. Dia sendiri berusaha
menahan air matanya.
“begitu
tidak inginnya dia menyusahkan keluarga sampai tidak pernah mengeluh nak..
itulah yang paling ibu sesali. Kakakmu berusaha tetap kuat dan tersenyum,
setiap hari mengais sampah untuk membantumu menjadi seperti sekarang.
Berjanjilah nak,, kamu akan meneruskan mimpi kakakmu.. membantu yang tidak
mampu. Menjadi dokter yang jujur dan bijaksan.” Ibu mengelus pundak Annisa
“pasti
bu.. tanpa kakak Annisa da Ahzan tidak akan bisa seperti sekarang ini. Annisa
tidak akan bisa jadi dokter, dan Ahzan tidak akan bisa jadi pengacara. Semua
itu karena usaha kakak dan kebiasaannya menulis sampai akhirnya tulisannya
menjadi banyak. dan dibuat menjadi buku dan bahkan ada yang di filmkan. Semua itu kakak lakukan meski
dengan pensil yang ditemukannya disampah dan kertas sobek yang dibuang orang.
Kakak adalah segalanya untuk kita.. karena kakak juga, Abang Fahriz berubah dan
mau membantu bapak menjalankan pabrik. Allah telah menentukan jalan kita kearah
yang lebih baik seperti sekarang. Dan kita harus memanfaatkannya dengan baik
dan tidak lupa untuk bersyukur.”
Annisa
menggenggam erat tangan ibunya, sebelah tangannya menghapus air mata ibunya.
Ibu dan anak itu masih terdiam mengenang apa yang terjadi. Reyna berhasil
bernegosiasi dengan Tuhan.
Ya,
selama ini sudah hampir lima tahun dia menyembunyikan penyakitnya. Dia memilih
untuk menanggung sendiri penyakit itu dan menuliskan kisahnya dalam
lembaran-lembaran kertas bekas. Reyna memang senang menulis, sejujurnya dia
bercita-cita menjadi penulis. Waktu senggang saat mengais sampah, dia gunakan
untuk mengukir imajinasinya dalam tulisan. Saat dia ditemukan tidak bernyawa di
Musholla bersama tulisannya, Annisa baru sadar, gumpalan-gumpalan kertas yang
dikumpulkan kakaknya di dalam kardus itu adalah karya tulisannya. Tanpa
berfikir panjang, setalah sebulan kakaknya di makamkan Annisa menyalin tulisan
itu dan memasukkannya dalam blog, sampai akhirnya ada penerbit yang mau
menjadikan tulisan itu sebagai novel. Tulisan Reyna menjadi best seller dan
bahkan dibuat film. Dari situlah kehidupan keluarga Reyna membaik. Bahkan
sangat membaik setelah Annisa dan Ahzan mendapat beasiswa kuliah di luar
negeri.
Sementara
Fahriz, semmenjak Reyna meninggal dan membaca tulisan Reyna membuatnya tersadar
bahwa selama ini apa yang dilakukannya tidak sebanding dengan apa yang
dilakukan Reyna. Dia mulai berubah dan mau membantu pabrik ayahnya.
Mereka
berdua masih berkutat dengan kejadian selama Reyna pergi, sampai tiba-tiba
sebuah suara mengagetkann mereka.
“Assalamualaikum…
Ibu,, Bapak,, Kakak,, Abang,, Ahzan pulang…”
Teriakan
itu dari Ahzan yang baru saja pulang dari Amerika. Sengaja tidak memberitahu
keluarga karena ingin membuat kejutan. Mendengar suara itu Annisa dan Ibunya
sama-sama mengarahkan pandangannya kearah pintu. Melihat siapa yang datang,
segera mungkin Ibu dan anak itu memburu Ahzan. Ahzan mencium tangan ibunya dan
memeluknya. Ibunya menangis terharu. Ahzan memandang kakaknya. Annisa hanya
mengangkat bahu dan tersenyum sambil menunjukkan foto kakak mereka. Ahzan
mengelus punggung ibunya dan menenagkannya.
“ibu
kenapa melihat Ahzan malah menangis?”
Cepat-cepat
perempuan tua itu menghapus air matanya dan tersenyum
“jangan
bilang ibu menangis karena mengingat kakak Reyna lagi.”
“tidak-tidak,,
ibu terharu dan merasa sangat kangen sama anak ibu yang ganteng ini. Sudah satu
tahun kamu tidak pulang menemui ibu setelah wisuda itu.”
“maaf
ibuku sayang .. Ahzan harus menyelesaikan proyek disana.. dan sekarang sudah
selesai. Ahzan memutuskan untuk bekerja di Indonesia.”
“benarkah??
Syukurlah kalau begitu.”
“benar
ibu tidak apa-apa? Masih teringat kakak?? Ahzan juga masih sering teringat
kakak.. dan Ahzan selalu mendo’akan kakak, tidak baik berlarut-larut sedih
selama ini.. Ahzan hanya menangis mengingat kakak di hari-hari tertentu saja.
Beda halnya dengan ibu. Selama empat tahun ini ibu selalu menangis setiap hari
ditambah sehabis sholat. Kan itu tidak baik bu.. kakak pasti sedih disana.”
“kamu
tau dari mana ibu menagis setiap hari?? Pasti kakakmu Annisa yang bilang.” Ibu
memelototi anak gadisnya itu.
“sudahlah
ibu.. katanya mau ke bank..” Annisa berusaha ngeles
“oh
iya. Sampai lupa. Bagaimana kalau kita ke pabrik sekalian jemput Abang dan
Bapakmu. Lalau makan malam di luar?.”
“ide
bagus bu,, Ahzan yang bawa mobil ya..?”
“ok!!
Asal jangan ngebut ya..?”
Merekapun
meninggalkan rumah. Sambil berlalu, hati Annisa berkata. “kakak,, terimakasih
untuk semuanya. Sekarang bukan bapak yang melindungi kami.. tapi kamilah yang
akan melindungi Bapak dan Ibu..”
¥αΩŠα