Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 November 2013

Cerita Pendek



Teman.. kita milik semua
Pagi  ini, hari  pertama  aku  masuk  sekolah  disalah  satu  SMA  swasta  di  Bandar  Lampung. Cukup  menyenangkan. Aku  duduk  sebangku  dengan  Nira, teman  baruku. Dia  baik, tidak  hanya  Nira, aq  juga  berkenalan  dengan  Ola, Sari, Tika, dan  Wulan, mereka  semua  baik. Tapi  aku  belum  terlalu  dekat  dengan  mereka. Memang  tahun  ini  merupakan  tahun  pertama  aku  bersekolah  dikota  Bandar  Lampung  ini, karena  selama  ini  aku  bersekolah  di  Jawa. Aku  pindah  sekolah  karena  orang  tuaku  pindah  kerja  disini, jadi  aku  belum  punya  teman  sama  sekali.

Hari  kedua  aku  pergi  kesekolah, hari  ini  pertama  kali  aku  mulai  dekat  dengan  Sari. Karena  tepat  bulan  September  murid  baru  yang  mengikuti  organisasi  ekstrakulikuler  harus  ikut  ORGAP ( Orientasi Gabungan ), jadi   aku  mengajak  Sari  untuk  menemaniku  membeli  keperluan  untuk  Orgap  nanti, sekalian  menemaniku  untuk  melihat-lihat  kota  Bandar Lampung. Aku  memang  baru  tinggal  disini, jadi  aku  masih  belum  mengenal Lampung lebih  jauh, bahkan bagian  kecil  kotanya  yang  sekarang  ini  aku  tempati. Sejak  itu  hubugan  aku  dengan  Sari  tidak  hanya  sekedar  teman  kelas, tapi  juga  sahabat. Aku  menganggap dia  lebih  dari  sahabat, bahkan  saudara  sendiri  karena  memang  hubungan  aku  dan  dia  sangat  dekat, bahkan  orang  tua  Sari  maupun  orang  tuaku  menganggap  kita  satu  sama  lain  sebagai  anak  mereka.

Persahabatan  aku  dan  Sari berlanjut  hingga  setengah  tahun  lebihnya, dimana  jika  ada  Sari  disitu  pasti  ada  aku. Hari-hariku  disekolah  juga  jadi  semakin  menyenangkan, pikiran  bahwa  tinggal  di  Lampung  tidak  menyenangkan, ternyata  justru  sebaliknya. Banyak  sesuatu  yang  belum  pernah  aku  temui  ditempat  tinggalku  dulu. Tentang  adat-adatnya  yang  masih  berkembang  meski  zaman  sudah  berubah, salah  satu  keunikan  dari  kota  Lampung  yang  aku  sukai.

Sampai  akhirnya  persahabatan  aku  dan  Sari  sedikit  merenggang, aku  gak  tau  apa  penyebabnya. Semuanya  bermula  dari  semenjak  aku  mengenal  cowok. Memang  semenjak  aku  kecil  aku  tidak  pernah  dekat  dengan  cowok.

 Aku  penya  cowok, dia  anak  kuliahan. Sudah  setengah  tahun  aku  jalan  dengannya, sampai  akhirnya  aku  melihat  ada  yang  aneh  dengan  sikap  dia, dia  mulai  sering  smsan dengan  Sari, dan  itu  membuat  aku  cemburu. Aku  sedikit demi  sedikit  mulai  menjauhi  Sari, enatah  kenapa  meskipun  aku  menjauhi  dia  aku  merasa  tidak  enak, aku  tidak  ingin  memiliki  sifat  jelek  seperti  ini, tapi  api  kecemburuan  mengalahkan  semua  perasaan  baikku, semakin hari  aku  semakin  menyesal, tetapi, aku  juga  merasakan  adanya  perubahan  sikap  Sari  yang  mulai  memusuhiku.  Aku  tak  tahan, selama  disekolah  dia  tidak  pernah  menyapaku, apalagi  mengajakku  mengobrol, dan  ini  membuat  aku  frustasi. Aku  merasa  lelah  dan menyesal.

Aku  tidak  bisa  tidak  memikirkannya, semua  nilai  pelajaranku  turun. Aku  benci  dengan  keadaan  semua  ini, hingga  aku  putus  dengan  cowokku, aku  masih  belum  berbaikan  dengan  Sari. Naik  kelas  dua  aku  benar-benar  sudah  memutuskan  hubunganku  dengan  Sari, yah…walaupun  belum  dibicarakan.

 Dikelas  dua  ini  aku  mulai  dekat  dengan  Wulan. Kebetulan untuk  kelas  dua  ini  ada  perombakan  kelas. Aku  sebelumnya  merasa  senang, aku  berharap  aku  tidak  akan  sekelas  lagi  dengan  Sari, ternyata  dugaanku  salah, kita  sekelas  lagi. Dia  sekarang  dekat  dengan  Widya, teman  sekelas  aku  dan  Sari  ketika kita kelas  satu, dan  sekarang  sekelas  lagi. Aku  sudah  bisa menerima  bahwa  persahabatan  aku  dan  Sari  sudah  berakhir, aku  menjalin  persahabatan  dengan  Wulan. Aku  menemukan  sisi  sahabat  yang  benar-benar  sesuai  denganku, yah……..meskipun  dia  tidak  terlalu  baik (hehe maafkan aku sobat). Dia  lebih  terbawa  pada  dirinya  sendiri, dia  memang  mendengarkan  curhatanku  setiap  hari, tapi…dia tidak  pernah  mengomentarinya, setiap  aku  minta  komentarnya  dia  selalu  bilang  “gak  tau”. Seperti  pagi  ini  disekolah, aku  sudah  panjang  lebar menceritakan  keluhanku :

“ Bagaimana  menurutmu  Wulan?? ” tanyaku  padanya
“ Aku  gak  tau  Ariyani, masalahmu selalu sulit ”. jawabnya

Seperti  biasa  hanya  itu jawabannya. Menyebalkan  memang. Tapi, aku  senang  bersahabat  dengannya. Dihari  ulang  tahunnya  pun  aku  memberikan  hadiah  untuknya. Ibunya  sudah menganggapku  sebagai  anaknya. Rasanya  sakit  yang  dulu  kurasakan  kini  sudah  terobati. Kehidpanku  disinipun  berubah, sangat  berubah. Meskipun  aku  mempunyai  cowo’ tapi, hubungan  aku  dengan  Wulan  masih  berjalan  dengan  baik. Dan  aku  berfikir  persahabatanku  dan  Wulan  akan  selamanya  menjadi  baik  tanpa  ada  yang mengganggu. Aku  juga  berfikir  mungkin aku  tidak  akan  berbicara  lagi  dengan  Sari, untuk  selamanya, tapi  ternyata  tidak.  Meskipun  secara  diam-diam  aku  dan  dia  bersaing  dalam  hal  pelajaran, apalagi  semenjak  les, memang  disemester  pertama  aku  ikut  les, tapi  disemester  kedua  aku  tidak  les. Karena  Wulan  juga  tidak  les, dan  aku  melihat  perubahan  Sari, nilai  Kimianya  bagus-bagus, bahkan  setiap  ulangan  harian  dia  tidak  pernah  remedial, aku  pikir  disemester  kedua  aku  tidak  akan  menduduki  peringkat  sepuluh  besar, itu  baru  dugaanku  nanti.
Kembali  ke  persahabatan  aku  dengan  Wulan, kali inipun dugaanku  salah,  Aku  merasa  ternyata  menjalin  persahabatan  itu  tidak  mudah.Terbukti, persahabatan_q  diuji  lagi, aq  sudah  menjalani  persahabatan  lebih  dari  enam  bulan, dan  kini  hamper  pecah  gara=  orang  ketiga, kayak pacaran  aja…hoho

Yah…tapi  kenyataannya  memang  seperti  itu… sebuah  ikatan  persahabatan, cinta, bahkan kekeluargaanpun  harus  menghadapi  masalah… bahkan  terkadang  sampai  berada di ambang perpecahan,,,dan,,,Alhamdulillah…aku  dan  dia  tidak  sampai  seperti  itu, kita  dapat  melewatinya.
2  tahun  berlalu, aku  dapat  melewatinya  dengan  baik, hubungan  persahabatan  aku  dan  Wulan, berjalan  dengan  baik,begitu  juga  dengan  Sari, kita, berteman  baik. Yah,,,walaupun  terkadang  memang  ada  sedikit  masalah, yah,,, itulah  indahnya  persahabatan,,, rasa  cemburu  terhadap  yang  lain  juga  ada… gak  cuman  pacaran  ja  kan..????????? J
Hari  baru, tahun  baru!!! Sekarang  aku  sudah  kelas  III  rasanya  waktu  begitu  cepat… berarti  sebentar  lagi  aq  akan  berpisah  dengan  masa  SMA. Teman-teman… ah,,, aq  baru merasakan  indahnya  persahabatan  q  dimasa-masa  sekolah  sekian  lama..dan  sekarang  aq  harus  merelakan  semua  itu  menjadi  kenangan. Kehidupan  baru  ada  didepan  mata. Aku, Wulan, dan Sari memiliki jalan yang berbeda, namun itu tidak membuat jarak diantara kami. Walaupun kami tau saat untuk berpisah itu akan tiba saatnya ketika kami akan menempuh jalan masing-masing, namun kami tetap menjadi sahabat. Belajar lebih keras demi tujuan kami masing-masing. Hingga kami bisa bertemu suatu saat, dimana kami telah menjadi seseorang yang sukses. J

Sabtu, 09 November 2013

Dream



“sudah lama tidak bertemu denganmu”
Tiba’tiba dia memelukku. Sungguh, aku tidak tau siapa dia, namun dia seolah-olah telah mengenalku lama dan dia memelukku sangat erat seperti memang dia begitu lamanya tidak bertemu denganku. Aku memang merasakan adanya perasaan rindu yang mendalam di dirinya. Namun, terasa aneh hatiku tidak merasakan apa-apa. Atau mungkin karena aku tidak mengenalnya. Benar-benar tidak mengenalnya, atau aku mengenalnya tapi melupakannya. Aku rasa salah satu diantara itu.
“kau baik-baik saja kan? Apa kau merindukanku? Aku benar-benar merindukanmu.” .Dia berbicara seperti itu setelah melepaskan pelukannya. Satu hal yang aku rasakan. Aku merasa lega ketika dia melepaskan pelukannya. Dan aku masih terdiam, tidak tau harus berkata apa.
Dia meminta izin orang tuaku untuk mengajakku keluar. Tidak begitu jelas bagaimana ekspresi orang tuaku saat itu mengizinkan kami untuk keluar jalan-jalan.
Aku tidak kenal tempat itu. Pusat perbelanjaan yang besar. Gedung dengan lima lantai, lantai dasar berisi penjualan pakaian, lantai kedua makanan, lantai tiga aksesoris, lantai empat elektronik dan lantai lima market. Sepertinya aku sering kesana. Tidak jauh dari rumah. Dia mengajakku berkeliling. Dan entah apa yang sedang terjadi saat ini akupun tidak mengerti. Sepanjang perjalanan dia banyak berbicara dan kebanyakan pembicaraan itu tidak kufahami karena justru aku memang tidak mendengarkannya, aku sedang memikirkan hal lain, aku berfikir siapa laki-laki ini, aku memang seperti mengenalnya, tapi juga seperti asing bagiku. Aku juga tidak tahu namanya.
Di sudut hatiku aku merasakan sesuatu hal yang sepertinya hilang dari diriku. Sesuatu yang sangat penting bagiku yang justru sepertinya tidak ada hubungannya dengan laki-laki yang sekarang bersamaku. Semakin aku berusaha mengingat, aku semakin merasakan kesedihan yang menyebar dalam darahku, mendidih seakan ingin tumpah bersama air mataku.
“baju itu bagus.. bagaimana menurutmu?”. Dia membuyarkan lamunanku. Mataku beralih memandang baju batik untuk laki-laki. Tanpa berfikir panjang entah apa yang sedang terjadi dalam pikiranku sehingga aku mengucapkannya. “pilih saja yang kau mau, aku akan membelikannya untuk mu”.
“benarkah? Baiklah, aku pilih yang… ( dia sibuk memilih baju ) yang ini!! “.
Sambil tersenyum dia menunjukkan baju itu padaku. Aku rasa dia cukup pandai memilih baju, dan sepertinya juga cocok untuknya. Kami menuju tempat kasir, dan aku membayarnya. Aneh, aku merasa seperti digerakkan oleh sesuatu. Bukan keinginanku untuk membelikannya baju, toh dia bukan siapa-siapa. Maksutku, saat ini aku memang tidak mengenalnya. Tapi aku sendiri merasa aneh dengan kejadian ini.
Kami melewati sebuah pom bensin, dia mengajakku kesuatu tempat. Aku mengenal jalan yang sedang kami lewati. Perasaan kehilangan itu timbul lagi. Semakin menjadi ketika aku dan dia sampai disuatu tempat. Tempat yang aneh menurutku, aku dan dia seperti berada di dalam lukisan, dimana tempat itu terdapat banyak warna. Rumput yang hijau dengan bunga-bunga mawar merah. Tidak jauh dari sebuah pohon ada sebuah boneka teddy bear berwarna biru muda. Awan yang indah seputih kapas, membentang di langit biru cerah. Dia mendekatiku dan memelukku.
“tempat ini indah bukan? Aku mengetahuinya  ketika menuju kerumahmu”.
Aneh!! Sangat aneh, kenapa aku merasa muak dipeluk olehnya? Kenapa aku merasa benci dan ingin sekali dia melepaskan pelukannya. Ingin marah tapi mulutku terdiam. Aku berusaha tersenyum sambil melihat sekelilingku. Tidak terlalu banyak orang, namun kebanyakan orang disana memang berpasangan. Mataku tertuju ke laut lepas yang berada di sisi kanan kami.. hatiku berdegup kencang, aku merasakan perasaan yang sangat sakit di hatiku. Aku mencoba mengalihkan pandanganku, mengusir kegelisahan yang mulai mengusik hatiku. Mataku tertuju ke boneka itu untuk yang kedua kali.nya. ya Tuhan.. tubuhku bergetar.. seketika air mataku mulai jatuh bersamaan dengan itu otakku seperti kaset yang sedang memutar sebuah film. Wajah itu, tangan itu, senyum itu, aku bersama seorang laki-laki yang sepertinya sangat berarti untukku. Aku beringsut, menjauh dari laki-laki yang sekarang memelukku, membelakanginya berusaha menahan perasaan yang berkecamuk. Berusaha mencerna apa yang sedang terjadi di otakku. Tubuhku menggigil.
“tidak bisa…aku,,tidak bisa mencintai orang lain selain dia.. aku tidak bisa. Hatiku benar-benar sakit,, aku merasa tidak nyaman denganmu. Aku tidak tahu siapa kamu. Tapi di hatiku, di fikiranku aku hanya mencintai satu orang., meskipun suatu saat ada orang lain selain kau aku akan tetap mencintainya. Aku akan tetap mencintainya. Hanya mencintainya. Maafkan aku, entah bagaimana hubungan kita, aku benar-benar tidak bisa menerimamu dalam hatiku, juga dalam kehidupanku”.
Suaraku bergetar, kepalan tanganku semakin mengeras berusaha mengendalikan emosiku. Aku menyadari ucapanku, sepenuhnya. Semuanya teringat, kenanganku bersama dia, menangis bersama dia, tertawa bersama dia, susah bersama dia semuanya. Aku semakin terpuruk, menangis sejadinya. Tidak peduli apa yang difikirkan laki-laki itu padaku.
ŸαΩŠα
Aku terbangun, mendengar adikku menangis. Mataku sangat berat. Ku regangkan tubuhku mencoba mengumpulkan semua kesadaranku. Hp ku berbunyi,. Ada sms. Masih mengantuk aku membacanya. Dari temanku di kampus. Setelah membalasnya aku langsung ke kamar mandi, mengambil air wudlu, dan sholat subuh.  Selesai sholat, aku berfikir apa yang sedang terjadi. Aku bermimpi aneh, tiba-tiba aku merasa rindu dengan abi. Yah, beberapa hari ini hubungan kami memang sedang tidak baik.
Kejadian di mimpi itu membuat aku berfikir. Kekosongan hati yang aku rasakan saat aku tidak mengingat apapun adalah karena dia memang sangat berarti untukku. Bahwa Abi memang bagian dari hidupku. Berapapun kebaikan sebanyak apapun cinta dan sayang yang aku terima dari seseorang (laki-laki) aku tidak akan bisa mencintai orang lain selain Abi. Apapun kekurangan Abi, kelebihan Abi. Aku mencintai satu orang apapun keadaannya. Apapun keadaanku aku tetap akan mencintai dirimu, Dan aku fikir itulah cinta sejati. J

sajak penyesalan



SAJAK PENYESALAN
“Hari ini bapak sakit”
Adikku memberitahuku ketika aku tiba diwarung sepulang dari mengais sampah.kutemui adikku menjaga warung sendiri. Sakit apa bapak? Pertanyaan itu terlintas dipikiranku, setahuku sampai tadi pagi bapak baik-baik saja, bercanda dengan adikku yang nomor empat yang masih berumur dua tahun kurang dua bulan. Aku menyimpulkan mungkin bapak terlalu lelah.
Badan yang kurus itu terbaring lemah di ranjang putih, disebuah ruangan yang tidak terlalu besar namun luas dihuni beberap orang yang juga sedang sakit. Wanita berseragam putih sesekali masuk ke ruangan itu dengan membawa keperluan pasien, suster itu sangat garang, bahkan para penunggu pasien disitu sering menggosipkannya, memang suster itu terlihat angkuh, bahkan tidak mau tersenyum kepada penduduk miskin seperti kami.
          Rumah sakit ini tidak terlalu besar dan sudah sangat tua, lantainya sudah banyak yang retak dan pecah. Dinding yang bercat-kan lumut hijau dan sebagian dihiasi retakan kecil seperti akar rumput yang memanjang. Meskipun sangat tua, umur rumah sakit ini sama dengan umur bapak, dan rumah sakit ini merupakan satu-satunya rumah sakit yang ada di kampung halaman kami, dan lagi. Rumah sakit ini menjadi harapan bagi para penduduk yang sakit termasuk bapak.
          Lima puluh lima tahun menjalani hidup susah, merantau ke kota-kota seperti Riau, Kalimantan, Lampung, Jakarta dan masih banyak kota lainnya yang menjadi tempat keluargaku mengais rupiah, namun kehidupan kami masih jauh dari layak.
          Abangku seorang pengangguran, hidup tidak jelas, pekerjaannya hanya memakan tulang punggung orang tua sampai mereka tak berdaya. Marah jika tidak terkabul keinginannya, dia juga jarang pulang ke rumah, sekalinya pulang pasti meminta uang kepada orang tua. Hingga umur tiga puluh dua tahun masih belum menikah.
          Aku sendiri sibuk mengais rupiah dari setiap kantong sampah dan jalanan, umurku jauh lima tahun dibawah abangku. SMP pun aku tidak tamat, karena keterbatasan orangtuaku. Meskipun harus bertarung dengan terik matahari saat panas, dan meski harus basah kuyup oleh hujan saat musim hujan, itu tidak membuatku menyerah untuk demi bisa menyekolahkan adikku.
          Adikku yang nomor tiga masih sekolah kelas tiga SMA, aku bersyukur adikku masih bisa sekolah sampai tingkat standar minimal anak belajar, dengan dibantu beasiswa dari sekolah, membuat sedikit ringan beban orangtuaku. Aku selalu menekankan dia untuk rajin belajar meski dengan kesibukan menemani ibuku menjaga warung kecildi pinggir jalan. Aku berharap adikku bisa sedikit merubah nasib keluargaku, dan kelak membantu adikku yang nomor empat kejenjang yang lebih tinggi.
          Keluarga miskin yang berusaha untuk tetap bertahan di kota perantauan. Kami sudah tidak bisa kembali lagi ke kampung halaman, keluargaku sudah terjebak di kampung terpencil di sudut kota Riau. Tidak sanggup menghirup udara segar kampung kelahiran orang tuaku karena tidak adanya kemajuan ekonomi. Bahkan kami terpuruk dalam kemiskinan, hidup dirumah tua, berdinding kayu, dengan atap jerami. Kampung kecil ini menjadi pijakan terakhir bagi kami.
          Begitu jauhnya jarak antara kampung dan kota. Butuh waktu dua jam sampai disana. aku pun harus berjalan kaki ke kota untuk mencari sampah. Terkadang akupun harus pulang jalan kaki jika uang yang aku dapatkan tidak terlalu besar. Itupun harus melewati sawah dulu selama setengah jam baru sampai rumah.
          Kuperhatikan setiap tubuh bapak yang terbaring, meski kami jarang berbicara namun aku tau, bapak adalah kepala rumah tangga yang baik. Berjuang untuk keluarganya. Kami jarang berkumpul dan mengobrol banyak, setiap aku pulang bapak masih sibuk dengan pekerjaannya menganyam tikar. Paling, bapak hanya menyuruhku sholat dan makan. Akupun terlalu lelah setelah pulang.
Tangan yang dulunya kokoh, kini mulai keriput, kering, urat yang terlihat jelas menandakan sekeras apa kehidupan bapak. Jari-jari yang hamper kehilangan kukunya karena selama menjadi buruh di warung saat merantau bapak mendapat tugas memotong ikan dan memeras jeruk. Badan bapak juga mulai menyusut. Dulu,,, saat kehidupan kami berkecukupan. Aku masih bisa melihat bapak gemuk. Saat aku masih kecil, kehidupan kami berkecukupan. Namun itu tidak lama sampai akhirnya keluarga kami terpuruk seperti sekarang.
Uban memenuhi rambut bapak, betapa selama ini beliau berfikir keras, berjuang untuk menghidupi kami. Mata yang cekung dengan lingkaran hitam di sekitarnya memperlihatkan bahwa bapak tidak pernah cukup tidur. Setiap malam terbangun untuk sholat malam. Kaki yang penuh dengan kapalan dan tumit yang pecah. Begitu perih melihat keadaan bapak yang seperti ini. Ditambah infuse yang sekarang mengisi tubuh bapak untuk tetap bertahan. Semua itu membuatku berfikir betapa selama ini bapak menanggung hidup kami sekkeluarga dengan susah payah sampai bapak seperti ini. Menahan semua keinginannya demi keluarga dan hanya bisa bermimpi tanpa bisa mewujudkannya.
          Kusentuh pelan lengannya yang kasar. Aku tau bapak sedang tidur. Pelan-pelan aku memijat lengannya,, kakinya,, merasakan kulit yang bersisik dan kasar itu sambil berfikir selama ini bapak mati-matian bekerja keras tidak peduli mengurus diri hanya demi rupiah. Apa jadinya jika kami harus kehilangan bapak?..
          Satu tetes air mata jatuh diatas telapak kaki bapak. Cepat-cepat aku menghapusnya. Takut bapak terbangun. Kucium kakinya, dalam hati aku berdo’a untuk kesembuhannya. Air mataku tidak bisa kutahan. Takut bapak terbangun, aku cepat-cepat keluar dari kamar. Aku menangis di depan pintu. Menangis sederas air hujan yang sedang mengguyur tanah yang kering saat itu. Meratapi nasibku dan keluargaku. Menahan diri untuk tidak mengeluh dan marah kepada yang Khaliq. Berusaha untuk sabar atas takdir dan cobaan-NYA. Tiba-tiba, tangan lembut menyentuh pundakku. Orang pertama nomor satu yang berarti untukku sebelum bapakku mencoba menguatkanku. Air mataku semakin deras.. melihat ketegaran ibu dalam menghadapi semua ini.
          “yang sabar ya ndok.. sholat dulu sana, do’akan bapak biar cepat sembuh”. Sambil tersenyum dan mengelus pundakku ibu memberiku kekuatan.
          Kuhapus air mataku. Aku berusaha tersenyum. Aku sadar, aku tidak sekuat ibu. Aku tidak mau membuat ikut terpuruk melihat keadaanku.
          “iya bu.. Reyna sholat dulu”.
          Sebelum meninggalkan kamar, aku melihat ibu masuk ke kamar bapak. Lagi-lagi kesedihan merambat dalam tubuhku. Berhenti di relung hati, bertumpuk di dalamnya hingga mendidih menciptakan gelembung kepedihan yang sangat. Ibuku, beliau adalah sosok yang tegar. Sangat tegar. Meski bapak tidak bisa memberikan uang  dan kehidupan yang layak, ibu tidak pernah mengeluh dan menuntut bapak apalagi meninggalkan bapak. Ibu yang selalu member bapak semangat disaat bapak putus asa. Membantu bapak dengan apa yang beliau bisa. Member kekuatan anak-anaknya dan juga bapak saat abang bersikap kasar. Meskipun dari luar ibuku terlihat begitu tua dengan rambut yang juga mulai beruban, baju yang ala kadarnya, jarang memakai sandal karena harus bergantian dengan adikku, namun bagiku ibu adalah sosok yang cantik.. cantik hatinya dan kuat imannya. Aku tidak bisa membayangkan jika ibu harus kehilangan bapak.. “ya Allah… aku mohon,, berilah kehidupan yang panjang untuk orang tuaku sampai beliau bisa merasakan kehidupan yang enak”.
          Setelah mengambil air wudlu, aku bergegas masuk musholla. Mencari mukena untuk umum yang ada di musholla dan sholat. Selesai sholat aku berdo’a untuk ibu dan bapak juga keluargaku. Masih memakai mukena aku mengeluarkan kertas dari kantong kresek dan pensil warna hitam yang aku temukan di tong sampah beberapa bulan yang lalu. Aku mulai menulis.
Berjuta peluh yang sudah kau keluarkan untuk keluargamu
Sampai semuanya menggenang menjadi lautan..
Seluas laut itu juga kebesaran hatimu
Menerima semua keadaan dengan bersyukur..
Pohon yang kekar pun jika tua akan semakin menguat kayunya..
Tapi tidak denganmu.. semakin berkurangnya umurmu,, tak menyurutkan kerasnya hati untuk tetap bertahan,,
Manusia hanyalah sebuah tanah.. meski kau berusaha tetap kuat,, tulang yang menua itu akan rapuh.. Rapuh dengan sendirinya, sedangkan selama ini yang membuatnya kuat hanyalah keimanan dan kerasnya hati..
Bapak… rohmu melebihi kuat tubuhmu.. aku yakin itu.
Dibalik keringnya kulit yang membungkus rapuhnya tulang,,terdapat jiwamu yang kekar dan kuat. Itulah pohon yang kau miliki yang menopangmu selama ini..yang membuatmu bertahan,,
Disaat ragamu ingin beristirahat sejenak saat ini.. bukanlah suatu harapan bagimu kan?? Kami tau,, yang bapak inginkan adalah menjalankan aktifitas seperti biasa meskipun susah dari pada terbaring dengan rasa sakit..lihatlah,, tangan anak-anak dan istrimu menunggumu, member do’a untukmu.. begitupun denganku..
Saat ini yang aku minta hanyalah,, bernegosiasi dengan Tuhan.. meminta-NYA untuk tidak terlalu lama bapak seperti saat ini..
Aku ingin menukarnya dengan diriku.. karena aku tahu bapak,,, keberadaanmu sangat berarti dan dibutuhkan keluarga
Aku sudah menanggung sakit begitu lama. Dan aku ingin Tuhan meringankanku.
Bapak… tidak cukup hanya ku katakan terima kasih..atas semua yang telah kau berikan padaku.. aku ingin membalas dengan nyawaku..
Jika memang Tuhan mengabulkan keinginanku,, aku minta bapak mau menjaga kesehatan dan melindungi Ibu dan adik-adik.
Akan kubawa pesan ratapan kalian untuk ku katakana pada Tuhan.. yaitu kebahagiaan kalian dan kehidupan yang layak.

¥αΩŠα
Empat tahun kemudian
“Annisa.. anterin ibu ke bank ya,, mau transfer uang.”
“iya bu,, Annisa mandi dulu yah.”
“yasudah,, ibu tunggu di bawah.”
“ok!!.”
“oh ya nak.. bapak kemana? Sudah berangkat?.”
“sudah bu.. tadi bawa mobil ke pabrik.”
“oh.. yasudah..cepetan mandinya.”
Perempuan baya itu kemudian menuruni tangga menuju ruang tamu yang cukup besar. Duduk sambil menatap keluar jendela. Baru sebentar, perempuan itu bangkit dari duduknya dan menuju meja yang ada disamping tv. Mengambil bingkai foto, ekspresinya berubah seketika. Tersirat kesedihan yang mendalam memandangi foto  yang ada di tangannya.
“terimakasih anakku.. meskipun kamu tidak bisa merasakan apa yang sudah kamu berikan kepada keluarga.. ibu yakin nak.. kamu bahagia disana. Harapanmu sudah terkabul Reyna. Ibu bangga nak.. padamu.”
Airmata menetesi bingkai itu. Jemari perempuan itu menyusuri setiap foto. Mencoba seolah-olah dia benar-benar bisa menyentuh wajah orang yang ada dalam foto itu. Perempuan itu memejamkan mata. Berusaha meraskan bagaimana ketika dia bisa menyentuh tubuh anaknya ketika masih hidup. Air matanya semakin deras. Tiba-tiba tangan lembut menyentuh pundaknya.
“kakak pasti bahagia bu… ibu jangan menangis, karena itu akan membuat kakak sedih disana. Penderitaannya sudah berakhir karena selama ini kakak menahan kesakitan yang sangat dalam yaitu kangker otak di kepalanya.” Annisa merangkul ibunya. Berusaha menguatkan Ibu yang paling dicintainya itu. Dia sendiri berusaha menahan air matanya.
“begitu tidak inginnya dia menyusahkan keluarga sampai tidak pernah mengeluh nak.. itulah yang paling ibu sesali. Kakakmu berusaha tetap kuat dan tersenyum, setiap hari mengais sampah untuk membantumu menjadi seperti sekarang. Berjanjilah nak,, kamu akan meneruskan mimpi kakakmu.. membantu yang tidak mampu. Menjadi dokter yang jujur dan bijaksan.” Ibu mengelus pundak Annisa
“pasti bu.. tanpa kakak Annisa da Ahzan tidak akan bisa seperti sekarang ini. Annisa tidak akan bisa jadi dokter, dan Ahzan tidak akan bisa jadi pengacara. Semua itu karena usaha kakak dan kebiasaannya menulis sampai akhirnya tulisannya menjadi banyak. dan dibuat menjadi buku dan bahkan ada yang di filmkan. Semua itu kakak lakukan meski dengan pensil yang ditemukannya disampah dan kertas sobek yang dibuang orang. Kakak adalah segalanya untuk kita.. karena kakak juga, Abang Fahriz berubah dan mau membantu bapak menjalankan pabrik. Allah telah menentukan jalan kita kearah yang lebih baik seperti sekarang. Dan kita harus memanfaatkannya dengan baik dan tidak lupa untuk bersyukur.”
Annisa menggenggam erat tangan ibunya, sebelah tangannya menghapus air mata ibunya. Ibu dan anak itu masih terdiam mengenang apa yang terjadi. Reyna berhasil bernegosiasi dengan Tuhan.
Ya, selama ini sudah hampir lima tahun dia menyembunyikan penyakitnya. Dia memilih untuk menanggung sendiri penyakit itu dan menuliskan kisahnya dalam lembaran-lembaran kertas bekas. Reyna memang senang menulis, sejujurnya dia bercita-cita menjadi penulis. Waktu senggang saat mengais sampah, dia gunakan untuk mengukir imajinasinya dalam tulisan. Saat dia ditemukan tidak bernyawa di Musholla bersama tulisannya, Annisa baru sadar, gumpalan-gumpalan kertas yang dikumpulkan kakaknya di dalam kardus itu adalah karya tulisannya. Tanpa berfikir panjang, setalah sebulan kakaknya di makamkan Annisa menyalin tulisan itu dan memasukkannya dalam blog, sampai akhirnya ada penerbit yang mau menjadikan tulisan itu sebagai novel. Tulisan Reyna menjadi best seller dan bahkan dibuat film. Dari situlah kehidupan keluarga Reyna membaik. Bahkan sangat membaik setelah Annisa dan Ahzan mendapat beasiswa kuliah di luar negeri.
Sementara Fahriz, semmenjak Reyna meninggal dan membaca tulisan Reyna membuatnya tersadar bahwa selama ini apa yang dilakukannya tidak sebanding dengan apa yang dilakukan Reyna. Dia mulai berubah dan mau membantu pabrik ayahnya.
Mereka berdua masih berkutat dengan kejadian selama Reyna pergi, sampai tiba-tiba sebuah suara mengagetkann mereka.
“Assalamualaikum… Ibu,, Bapak,, Kakak,, Abang,, Ahzan pulang…”
Teriakan itu dari Ahzan yang baru saja pulang dari Amerika. Sengaja tidak memberitahu keluarga karena ingin membuat kejutan. Mendengar suara itu Annisa dan Ibunya sama-sama mengarahkan pandangannya kearah pintu. Melihat siapa yang datang, segera mungkin Ibu dan anak itu memburu Ahzan. Ahzan mencium tangan ibunya dan memeluknya. Ibunya menangis terharu. Ahzan memandang kakaknya. Annisa hanya mengangkat bahu dan tersenyum sambil menunjukkan foto kakak mereka. Ahzan mengelus punggung ibunya dan menenagkannya.
“ibu kenapa melihat Ahzan malah menangis?”
Cepat-cepat perempuan tua itu menghapus air matanya dan tersenyum
“jangan bilang ibu menangis karena mengingat kakak Reyna lagi.”
“tidak-tidak,, ibu terharu dan merasa sangat kangen sama anak ibu yang ganteng ini. Sudah satu tahun kamu tidak pulang menemui ibu setelah wisuda itu.”
“maaf ibuku sayang .. Ahzan harus menyelesaikan proyek disana.. dan sekarang sudah selesai. Ahzan memutuskan untuk bekerja di Indonesia.”
“benarkah?? Syukurlah kalau begitu.”
“benar ibu tidak apa-apa? Masih teringat kakak?? Ahzan juga masih sering teringat kakak.. dan Ahzan selalu mendo’akan kakak, tidak baik berlarut-larut sedih selama ini.. Ahzan hanya menangis mengingat kakak di hari-hari tertentu saja. Beda halnya dengan ibu. Selama empat tahun ini ibu selalu menangis setiap hari ditambah sehabis sholat. Kan itu tidak baik bu.. kakak pasti sedih disana.”
“kamu tau dari mana ibu menagis setiap hari?? Pasti kakakmu Annisa yang bilang.” Ibu memelototi anak gadisnya itu.
“sudahlah ibu.. katanya mau ke bank..” Annisa berusaha ngeles
“oh iya. Sampai lupa. Bagaimana kalau kita ke pabrik sekalian jemput Abang dan Bapakmu. Lalau makan malam di luar?.”
“ide bagus bu,, Ahzan yang bawa mobil ya..?”
“ok!! Asal jangan ngebut ya..?”
Merekapun meninggalkan rumah. Sambil berlalu, hati Annisa berkata. “kakak,, terimakasih untuk semuanya. Sekarang bukan bapak yang melindungi kami.. tapi kamilah yang akan melindungi Bapak dan Ibu..”
¥αΩŠα

Entri Populer

Pengikut