“sudah
lama tidak bertemu denganmu”
Tiba’tiba
dia memelukku. Sungguh, aku tidak tau siapa dia, namun dia seolah-olah telah
mengenalku lama dan dia memelukku sangat erat seperti memang dia begitu lamanya
tidak bertemu denganku. Aku memang merasakan adanya perasaan rindu yang
mendalam di dirinya. Namun, terasa aneh hatiku tidak merasakan apa-apa. Atau
mungkin karena aku tidak mengenalnya. Benar-benar tidak mengenalnya, atau aku
mengenalnya tapi melupakannya. Aku rasa salah satu diantara itu.
“kau
baik-baik saja kan? Apa kau merindukanku? Aku benar-benar merindukanmu.” .Dia
berbicara seperti itu setelah melepaskan pelukannya. Satu hal yang aku rasakan.
Aku merasa lega ketika dia melepaskan pelukannya. Dan aku masih terdiam, tidak
tau harus berkata apa.
Dia
meminta izin orang tuaku untuk mengajakku keluar. Tidak begitu jelas bagaimana
ekspresi orang tuaku saat itu mengizinkan kami untuk keluar jalan-jalan.
Aku
tidak kenal tempat itu. Pusat perbelanjaan yang besar. Gedung dengan lima
lantai, lantai dasar berisi penjualan pakaian, lantai kedua makanan, lantai
tiga aksesoris, lantai empat elektronik dan lantai lima market. Sepertinya aku
sering kesana. Tidak jauh dari rumah. Dia mengajakku berkeliling. Dan entah apa
yang sedang terjadi saat ini akupun tidak mengerti. Sepanjang perjalanan dia
banyak berbicara dan kebanyakan pembicaraan itu tidak kufahami karena justru
aku memang tidak mendengarkannya, aku sedang memikirkan hal lain, aku berfikir
siapa laki-laki ini, aku memang seperti mengenalnya, tapi juga seperti asing
bagiku. Aku juga tidak tahu namanya.
Di
sudut hatiku aku merasakan sesuatu hal yang sepertinya hilang dari diriku.
Sesuatu yang sangat penting bagiku yang justru sepertinya tidak ada hubungannya
dengan laki-laki yang sekarang bersamaku. Semakin aku berusaha mengingat, aku
semakin merasakan kesedihan yang menyebar dalam darahku, mendidih seakan ingin
tumpah bersama air mataku.
“baju
itu bagus.. bagaimana menurutmu?”. Dia membuyarkan lamunanku. Mataku beralih
memandang baju batik untuk laki-laki. Tanpa berfikir panjang entah apa yang
sedang terjadi dalam pikiranku sehingga aku mengucapkannya. “pilih saja yang
kau mau, aku akan membelikannya untuk mu”.
“benarkah?
Baiklah, aku pilih yang… ( dia sibuk memilih baju ) yang ini!! “.
Sambil
tersenyum dia menunjukkan baju itu padaku. Aku rasa dia cukup pandai memilih
baju, dan sepertinya juga cocok untuknya. Kami menuju tempat kasir, dan aku
membayarnya. Aneh, aku merasa seperti digerakkan oleh sesuatu. Bukan
keinginanku untuk membelikannya baju, toh dia bukan siapa-siapa. Maksutku, saat
ini aku memang tidak mengenalnya. Tapi aku sendiri merasa aneh dengan kejadian
ini.
Kami
melewati sebuah pom bensin, dia mengajakku kesuatu tempat. Aku mengenal jalan
yang sedang kami lewati. Perasaan kehilangan itu timbul lagi. Semakin menjadi
ketika aku dan dia sampai disuatu tempat. Tempat yang aneh menurutku, aku dan
dia seperti berada di dalam lukisan, dimana tempat itu terdapat banyak warna.
Rumput yang hijau dengan bunga-bunga mawar merah. Tidak jauh dari sebuah pohon
ada sebuah boneka teddy bear berwarna biru muda. Awan yang indah seputih kapas,
membentang di langit biru cerah. Dia mendekatiku dan memelukku.
“tempat
ini indah bukan? Aku mengetahuinya
ketika menuju kerumahmu”.
Aneh!!
Sangat aneh, kenapa aku merasa muak dipeluk olehnya? Kenapa aku merasa benci
dan ingin sekali dia melepaskan pelukannya. Ingin marah tapi mulutku terdiam.
Aku berusaha tersenyum sambil melihat sekelilingku. Tidak terlalu banyak orang,
namun kebanyakan orang disana memang berpasangan. Mataku tertuju ke laut lepas
yang berada di sisi kanan kami.. hatiku berdegup kencang, aku merasakan
perasaan yang sangat sakit di hatiku. Aku mencoba mengalihkan pandanganku,
mengusir kegelisahan yang mulai mengusik hatiku. Mataku tertuju ke boneka itu
untuk yang kedua kali.nya. ya Tuhan.. tubuhku bergetar.. seketika air mataku
mulai jatuh bersamaan dengan itu otakku seperti kaset yang sedang memutar
sebuah film. Wajah itu, tangan itu, senyum itu, aku bersama seorang laki-laki
yang sepertinya sangat berarti untukku. Aku beringsut, menjauh dari laki-laki
yang sekarang memelukku, membelakanginya berusaha menahan perasaan yang
berkecamuk. Berusaha mencerna apa yang sedang terjadi di otakku. Tubuhku
menggigil.
“tidak
bisa…aku,,tidak bisa mencintai orang lain selain dia.. aku tidak bisa. Hatiku
benar-benar sakit,, aku merasa tidak nyaman denganmu. Aku tidak tahu siapa
kamu. Tapi di hatiku, di fikiranku aku hanya mencintai satu orang., meskipun
suatu saat ada orang lain selain kau aku akan tetap mencintainya. Aku akan
tetap mencintainya. Hanya mencintainya. Maafkan aku, entah bagaimana hubungan
kita, aku benar-benar tidak bisa menerimamu dalam hatiku, juga dalam
kehidupanku”.
Suaraku
bergetar, kepalan tanganku semakin mengeras berusaha mengendalikan emosiku. Aku
menyadari ucapanku, sepenuhnya. Semuanya teringat, kenanganku bersama dia,
menangis bersama dia, tertawa bersama dia, susah bersama dia semuanya. Aku
semakin terpuruk, menangis sejadinya. Tidak peduli apa yang difikirkan
laki-laki itu padaku.
ŸαΩŠα
Aku
terbangun, mendengar adikku menangis. Mataku sangat berat. Ku regangkan tubuhku
mencoba mengumpulkan semua kesadaranku. Hp ku berbunyi,. Ada sms. Masih
mengantuk aku membacanya. Dari temanku di kampus. Setelah membalasnya aku
langsung ke kamar mandi, mengambil air wudlu, dan sholat subuh. Selesai sholat, aku berfikir apa yang sedang
terjadi. Aku bermimpi aneh, tiba-tiba aku merasa rindu dengan abi. Yah,
beberapa hari ini hubungan kami memang sedang tidak baik.
Kejadian
di mimpi itu membuat aku berfikir. Kekosongan hati yang aku rasakan saat aku
tidak mengingat apapun adalah karena dia memang sangat berarti untukku. Bahwa
Abi memang bagian dari hidupku. Berapapun kebaikan sebanyak apapun cinta dan
sayang yang aku terima dari seseorang (laki-laki) aku tidak akan bisa mencintai
orang lain selain Abi. Apapun kekurangan Abi, kelebihan Abi. Aku mencintai satu
orang apapun keadaannya. Apapun keadaanku aku tetap akan mencintai dirimu, Dan
aku fikir itulah cinta sejati. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar