Teman.. kita milik semua
Pagi ini, hari pertama
aku masuk sekolah
disalah satu SMA
swasta di Bandar
Lampung. Cukup menyenangkan. Aku duduk
sebangku dengan Nira, teman
baruku. Dia baik, tidak hanya
Nira, aq juga berkenalan
dengan Ola, Sari, Tika, dan Wulan, mereka
semua baik. Tapi aku
belum terlalu dekat
dengan mereka. Memang tahun
ini merupakan tahun
pertama aku bersekolah
dikota Bandar Lampung
ini, karena selama ini
aku bersekolah di
Jawa. Aku pindah sekolah
karena orang tuaku
pindah kerja disini, jadi
aku belum punya
teman sama sekali.
Hari kedua aku
pergi kesekolah, hari ini
pertama kali aku
mulai dekat dengan
Sari. Karena tepat bulan
September murid baru
yang mengikuti organisasi
ekstrakulikuler harus ikut
ORGAP ( Orientasi Gabungan ), jadi
aku mengajak Sari
untuk menemaniku membeli
keperluan untuk Orgap
nanti, sekalian menemaniku untuk
melihat-lihat kota Bandar Lampung. Aku memang
baru tinggal disini, jadi
aku masih belum
mengenal Lampung lebih jauh,
bahkan bagian kecil kotanya
yang sekarang ini
aku tempati. Sejak itu
hubugan aku dengan
Sari tidak hanya
sekedar teman kelas, tapi
juga sahabat. Aku menganggap dia lebih
dari sahabat, bahkan saudara
sendiri karena memang
hubungan aku dan
dia sangat dekat, bahkan
orang tua Sari
maupun orang tuaku menganggap kita satu sama
lain sebagai anak
mereka.
Persahabatan aku dan
Sari berlanjut hingga setengah
tahun lebihnya, dimana jika
ada Sari disitu
pasti ada aku. Hari-hariku disekolah
juga jadi semakin
menyenangkan, pikiran bahwa tinggal
di Lampung tidak
menyenangkan, ternyata
justru sebaliknya. Banyak sesuatu
yang belum pernah aku
temui ditempat tinggalku
dulu. Tentang adat-adatnya yang
masih berkembang meski
zaman sudah berubah, salah satu
keunikan dari kota
Lampung yang aku
sukai.
Sampai akhirnya persahabatan
aku dan Sari
sedikit merenggang, aku gak
tau apa penyebabnya. Semuanya bermula
dari semenjak aku
mengenal cowok. Memang semenjak
aku kecil aku
tidak pernah dekat
dengan cowok.
Aku penya
cowok, dia anak kuliahan. Sudah setengah
tahun aku jalan
dengannya, sampai akhirnya aku
melihat ada yang
aneh dengan sikap
dia, dia mulai sering
smsan dengan Sari, dan itu
membuat aku cemburu. Aku
sedikit demi sedikit mulai
menjauhi Sari, enatah kenapa
meskipun aku menjauhi
dia aku merasa
tidak enak, aku tidak
ingin memiliki sifat
jelek seperti ini, tapi
api kecemburuan mengalahkan
semua perasaan baikku, semakin hari aku
semakin menyesal, tetapi,
aku juga
merasakan adanya perubahan
sikap Sari yang
mulai memusuhiku. Aku
tak tahan, selama disekolah
dia tidak pernah
menyapaku, apalagi
mengajakku mengobrol, dan ini
membuat aku frustasi. Aku
merasa lelah dan menyesal.
Aku tidak bisa
tidak memikirkannya, semua nilai
pelajaranku turun. Aku benci
dengan keadaan semua
ini, hingga aku putus
dengan cowokku, aku masih
belum berbaikan dengan
Sari. Naik kelas dua
aku benar-benar sudah
memutuskan hubunganku dengan
Sari, yah…walaupun belum dibicarakan.
Dikelas dua
ini aku mulai
dekat dengan Wulan. Kebetulan untuk kelas
dua ini ada
perombakan kelas. Aku sebelumnya
merasa senang, aku berharap
aku tidak akan
sekelas lagi dengan
Sari, ternyata dugaanku salah, kita
sekelas lagi. Dia sekarang
dekat dengan Widya, teman
sekelas aku dan Sari
ketika kita kelas satu, dan sekarang
sekelas lagi. Aku sudah
bisa menerima bahwa persahabatan
aku dan Sari
sudah berakhir, aku menjalin
persahabatan dengan Wulan. Aku
menemukan sisi sahabat
yang benar-benar sesuai
denganku, yah……..meskipun
dia tidak terlalu
baik (hehe maafkan aku sobat). Dia
lebih terbawa pada
dirinya sendiri, dia memang
mendengarkan curhatanku setiap
hari, tapi…dia tidak pernah mengomentarinya, setiap aku minta komentarnya
dia selalu bilang
“gak tau”. Seperti pagi
ini disekolah, aku sudah
panjang lebar menceritakan keluhanku :
“ Bagaimana menurutmu Wulan?? ” tanyaku padanya
“ Aku gak tau
Ariyani, masalahmu selalu sulit ”. jawabnya
Seperti biasa hanya
itu jawabannya. Menyebalkan memang.
Tapi, aku senang bersahabat
dengannya. Dihari ulang tahunnya
pun aku memberikan
hadiah untuknya. Ibunya sudah menganggapku sebagai
anaknya. Rasanya sakit yang
dulu kurasakan kini
sudah terobati. Kehidpanku disinipun
berubah, sangat berubah.
Meskipun aku mempunyai
cowo’ tapi, hubungan aku dengan
Wulan masih berjalan
dengan baik. Dan aku
berfikir persahabatanku dan
Wulan akan selamanya
menjadi baik tanpa
ada yang mengganggu. Aku juga
berfikir mungkin aku tidak
akan berbicara lagi
dengan Sari, untuk selamanya, tapi ternyata
tidak. Meskipun secara
diam-diam aku dan
dia bersaing dalam
hal pelajaran, apalagi semenjak
les, memang disemester pertama
aku ikut les, tapi
disemester kedua aku
tidak les. Karena Wulan
juga tidak les, dan
aku melihat perubahan
Sari, nilai Kimianya bagus-bagus, bahkan setiap
ulangan harian dia
tidak pernah remedial, aku
pikir disemester kedua
aku tidak akan
menduduki peringkat sepuluh
besar, itu baru dugaanku
nanti.
Kembali ke persahabatan
aku dengan Wulan, kali inipun dugaanku salah, Aku
merasa ternyata menjalin
persahabatan itu tidak
mudah.Terbukti, persahabatan_q
diuji lagi, aq sudah
menjalani persahabatan lebih
dari enam bulan, dan
kini hamper pecah
gara= orang ketiga, kayak pacaran aja…hoho
Yah…tapi kenyataannya memang
seperti itu… sebuah ikatan
persahabatan, cinta, bahkan kekeluargaanpun harus
menghadapi masalah… bahkan terkadang
sampai berada di ambang perpecahan,,,dan,,,Alhamdulillah…aku dan
dia tidak sampai
seperti itu, kita dapat
melewatinya.
2 tahun berlalu, aku
dapat melewatinya dengan
baik, hubungan persahabatan aku
dan Wulan, berjalan dengan
baik,begitu juga dengan
Sari, kita, berteman baik.
Yah,,,walaupun terkadang memang
ada sedikit masalah, yah,,, itulah indahnya
persahabatan,,, rasa cemburu terhadap
yang lain juga
ada… gak cuman pacaran
ja kan..????????? J
Hari baru, tahun baru!!! Sekarang aku sudah kelas
III rasanya waktu
begitu cepat… berarti sebentar
lagi aq akan
berpisah dengan masa
SMA. Teman-teman… ah,,, aq baru
merasakan indahnya persahabatan
q dimasa-masa sekolah
sekian lama..dan sekarang
aq harus merelakan
semua itu menjadi
kenangan. Kehidupan baru ada
didepan mata. Aku, Wulan, dan
Sari memiliki jalan yang berbeda, namun itu tidak membuat jarak diantara kami.
Walaupun kami tau saat untuk berpisah itu akan tiba saatnya ketika kami akan
menempuh jalan masing-masing, namun kami tetap menjadi sahabat. Belajar lebih
keras demi tujuan kami masing-masing. Hingga kami bisa bertemu suatu saat,
dimana kami telah menjadi seseorang yang sukses. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar