Sabtu, 09 November 2013

sajak penyesalan



SAJAK PENYESALAN
“Hari ini bapak sakit”
Adikku memberitahuku ketika aku tiba diwarung sepulang dari mengais sampah.kutemui adikku menjaga warung sendiri. Sakit apa bapak? Pertanyaan itu terlintas dipikiranku, setahuku sampai tadi pagi bapak baik-baik saja, bercanda dengan adikku yang nomor empat yang masih berumur dua tahun kurang dua bulan. Aku menyimpulkan mungkin bapak terlalu lelah.
Badan yang kurus itu terbaring lemah di ranjang putih, disebuah ruangan yang tidak terlalu besar namun luas dihuni beberap orang yang juga sedang sakit. Wanita berseragam putih sesekali masuk ke ruangan itu dengan membawa keperluan pasien, suster itu sangat garang, bahkan para penunggu pasien disitu sering menggosipkannya, memang suster itu terlihat angkuh, bahkan tidak mau tersenyum kepada penduduk miskin seperti kami.
          Rumah sakit ini tidak terlalu besar dan sudah sangat tua, lantainya sudah banyak yang retak dan pecah. Dinding yang bercat-kan lumut hijau dan sebagian dihiasi retakan kecil seperti akar rumput yang memanjang. Meskipun sangat tua, umur rumah sakit ini sama dengan umur bapak, dan rumah sakit ini merupakan satu-satunya rumah sakit yang ada di kampung halaman kami, dan lagi. Rumah sakit ini menjadi harapan bagi para penduduk yang sakit termasuk bapak.
          Lima puluh lima tahun menjalani hidup susah, merantau ke kota-kota seperti Riau, Kalimantan, Lampung, Jakarta dan masih banyak kota lainnya yang menjadi tempat keluargaku mengais rupiah, namun kehidupan kami masih jauh dari layak.
          Abangku seorang pengangguran, hidup tidak jelas, pekerjaannya hanya memakan tulang punggung orang tua sampai mereka tak berdaya. Marah jika tidak terkabul keinginannya, dia juga jarang pulang ke rumah, sekalinya pulang pasti meminta uang kepada orang tua. Hingga umur tiga puluh dua tahun masih belum menikah.
          Aku sendiri sibuk mengais rupiah dari setiap kantong sampah dan jalanan, umurku jauh lima tahun dibawah abangku. SMP pun aku tidak tamat, karena keterbatasan orangtuaku. Meskipun harus bertarung dengan terik matahari saat panas, dan meski harus basah kuyup oleh hujan saat musim hujan, itu tidak membuatku menyerah untuk demi bisa menyekolahkan adikku.
          Adikku yang nomor tiga masih sekolah kelas tiga SMA, aku bersyukur adikku masih bisa sekolah sampai tingkat standar minimal anak belajar, dengan dibantu beasiswa dari sekolah, membuat sedikit ringan beban orangtuaku. Aku selalu menekankan dia untuk rajin belajar meski dengan kesibukan menemani ibuku menjaga warung kecildi pinggir jalan. Aku berharap adikku bisa sedikit merubah nasib keluargaku, dan kelak membantu adikku yang nomor empat kejenjang yang lebih tinggi.
          Keluarga miskin yang berusaha untuk tetap bertahan di kota perantauan. Kami sudah tidak bisa kembali lagi ke kampung halaman, keluargaku sudah terjebak di kampung terpencil di sudut kota Riau. Tidak sanggup menghirup udara segar kampung kelahiran orang tuaku karena tidak adanya kemajuan ekonomi. Bahkan kami terpuruk dalam kemiskinan, hidup dirumah tua, berdinding kayu, dengan atap jerami. Kampung kecil ini menjadi pijakan terakhir bagi kami.
          Begitu jauhnya jarak antara kampung dan kota. Butuh waktu dua jam sampai disana. aku pun harus berjalan kaki ke kota untuk mencari sampah. Terkadang akupun harus pulang jalan kaki jika uang yang aku dapatkan tidak terlalu besar. Itupun harus melewati sawah dulu selama setengah jam baru sampai rumah.
          Kuperhatikan setiap tubuh bapak yang terbaring, meski kami jarang berbicara namun aku tau, bapak adalah kepala rumah tangga yang baik. Berjuang untuk keluarganya. Kami jarang berkumpul dan mengobrol banyak, setiap aku pulang bapak masih sibuk dengan pekerjaannya menganyam tikar. Paling, bapak hanya menyuruhku sholat dan makan. Akupun terlalu lelah setelah pulang.
Tangan yang dulunya kokoh, kini mulai keriput, kering, urat yang terlihat jelas menandakan sekeras apa kehidupan bapak. Jari-jari yang hamper kehilangan kukunya karena selama menjadi buruh di warung saat merantau bapak mendapat tugas memotong ikan dan memeras jeruk. Badan bapak juga mulai menyusut. Dulu,,, saat kehidupan kami berkecukupan. Aku masih bisa melihat bapak gemuk. Saat aku masih kecil, kehidupan kami berkecukupan. Namun itu tidak lama sampai akhirnya keluarga kami terpuruk seperti sekarang.
Uban memenuhi rambut bapak, betapa selama ini beliau berfikir keras, berjuang untuk menghidupi kami. Mata yang cekung dengan lingkaran hitam di sekitarnya memperlihatkan bahwa bapak tidak pernah cukup tidur. Setiap malam terbangun untuk sholat malam. Kaki yang penuh dengan kapalan dan tumit yang pecah. Begitu perih melihat keadaan bapak yang seperti ini. Ditambah infuse yang sekarang mengisi tubuh bapak untuk tetap bertahan. Semua itu membuatku berfikir betapa selama ini bapak menanggung hidup kami sekkeluarga dengan susah payah sampai bapak seperti ini. Menahan semua keinginannya demi keluarga dan hanya bisa bermimpi tanpa bisa mewujudkannya.
          Kusentuh pelan lengannya yang kasar. Aku tau bapak sedang tidur. Pelan-pelan aku memijat lengannya,, kakinya,, merasakan kulit yang bersisik dan kasar itu sambil berfikir selama ini bapak mati-matian bekerja keras tidak peduli mengurus diri hanya demi rupiah. Apa jadinya jika kami harus kehilangan bapak?..
          Satu tetes air mata jatuh diatas telapak kaki bapak. Cepat-cepat aku menghapusnya. Takut bapak terbangun. Kucium kakinya, dalam hati aku berdo’a untuk kesembuhannya. Air mataku tidak bisa kutahan. Takut bapak terbangun, aku cepat-cepat keluar dari kamar. Aku menangis di depan pintu. Menangis sederas air hujan yang sedang mengguyur tanah yang kering saat itu. Meratapi nasibku dan keluargaku. Menahan diri untuk tidak mengeluh dan marah kepada yang Khaliq. Berusaha untuk sabar atas takdir dan cobaan-NYA. Tiba-tiba, tangan lembut menyentuh pundakku. Orang pertama nomor satu yang berarti untukku sebelum bapakku mencoba menguatkanku. Air mataku semakin deras.. melihat ketegaran ibu dalam menghadapi semua ini.
          “yang sabar ya ndok.. sholat dulu sana, do’akan bapak biar cepat sembuh”. Sambil tersenyum dan mengelus pundakku ibu memberiku kekuatan.
          Kuhapus air mataku. Aku berusaha tersenyum. Aku sadar, aku tidak sekuat ibu. Aku tidak mau membuat ikut terpuruk melihat keadaanku.
          “iya bu.. Reyna sholat dulu”.
          Sebelum meninggalkan kamar, aku melihat ibu masuk ke kamar bapak. Lagi-lagi kesedihan merambat dalam tubuhku. Berhenti di relung hati, bertumpuk di dalamnya hingga mendidih menciptakan gelembung kepedihan yang sangat. Ibuku, beliau adalah sosok yang tegar. Sangat tegar. Meski bapak tidak bisa memberikan uang  dan kehidupan yang layak, ibu tidak pernah mengeluh dan menuntut bapak apalagi meninggalkan bapak. Ibu yang selalu member bapak semangat disaat bapak putus asa. Membantu bapak dengan apa yang beliau bisa. Member kekuatan anak-anaknya dan juga bapak saat abang bersikap kasar. Meskipun dari luar ibuku terlihat begitu tua dengan rambut yang juga mulai beruban, baju yang ala kadarnya, jarang memakai sandal karena harus bergantian dengan adikku, namun bagiku ibu adalah sosok yang cantik.. cantik hatinya dan kuat imannya. Aku tidak bisa membayangkan jika ibu harus kehilangan bapak.. “ya Allah… aku mohon,, berilah kehidupan yang panjang untuk orang tuaku sampai beliau bisa merasakan kehidupan yang enak”.
          Setelah mengambil air wudlu, aku bergegas masuk musholla. Mencari mukena untuk umum yang ada di musholla dan sholat. Selesai sholat aku berdo’a untuk ibu dan bapak juga keluargaku. Masih memakai mukena aku mengeluarkan kertas dari kantong kresek dan pensil warna hitam yang aku temukan di tong sampah beberapa bulan yang lalu. Aku mulai menulis.
Berjuta peluh yang sudah kau keluarkan untuk keluargamu
Sampai semuanya menggenang menjadi lautan..
Seluas laut itu juga kebesaran hatimu
Menerima semua keadaan dengan bersyukur..
Pohon yang kekar pun jika tua akan semakin menguat kayunya..
Tapi tidak denganmu.. semakin berkurangnya umurmu,, tak menyurutkan kerasnya hati untuk tetap bertahan,,
Manusia hanyalah sebuah tanah.. meski kau berusaha tetap kuat,, tulang yang menua itu akan rapuh.. Rapuh dengan sendirinya, sedangkan selama ini yang membuatnya kuat hanyalah keimanan dan kerasnya hati..
Bapak… rohmu melebihi kuat tubuhmu.. aku yakin itu.
Dibalik keringnya kulit yang membungkus rapuhnya tulang,,terdapat jiwamu yang kekar dan kuat. Itulah pohon yang kau miliki yang menopangmu selama ini..yang membuatmu bertahan,,
Disaat ragamu ingin beristirahat sejenak saat ini.. bukanlah suatu harapan bagimu kan?? Kami tau,, yang bapak inginkan adalah menjalankan aktifitas seperti biasa meskipun susah dari pada terbaring dengan rasa sakit..lihatlah,, tangan anak-anak dan istrimu menunggumu, member do’a untukmu.. begitupun denganku..
Saat ini yang aku minta hanyalah,, bernegosiasi dengan Tuhan.. meminta-NYA untuk tidak terlalu lama bapak seperti saat ini..
Aku ingin menukarnya dengan diriku.. karena aku tahu bapak,,, keberadaanmu sangat berarti dan dibutuhkan keluarga
Aku sudah menanggung sakit begitu lama. Dan aku ingin Tuhan meringankanku.
Bapak… tidak cukup hanya ku katakan terima kasih..atas semua yang telah kau berikan padaku.. aku ingin membalas dengan nyawaku..
Jika memang Tuhan mengabulkan keinginanku,, aku minta bapak mau menjaga kesehatan dan melindungi Ibu dan adik-adik.
Akan kubawa pesan ratapan kalian untuk ku katakana pada Tuhan.. yaitu kebahagiaan kalian dan kehidupan yang layak.

¥αΩŠα
Empat tahun kemudian
“Annisa.. anterin ibu ke bank ya,, mau transfer uang.”
“iya bu,, Annisa mandi dulu yah.”
“yasudah,, ibu tunggu di bawah.”
“ok!!.”
“oh ya nak.. bapak kemana? Sudah berangkat?.”
“sudah bu.. tadi bawa mobil ke pabrik.”
“oh.. yasudah..cepetan mandinya.”
Perempuan baya itu kemudian menuruni tangga menuju ruang tamu yang cukup besar. Duduk sambil menatap keluar jendela. Baru sebentar, perempuan itu bangkit dari duduknya dan menuju meja yang ada disamping tv. Mengambil bingkai foto, ekspresinya berubah seketika. Tersirat kesedihan yang mendalam memandangi foto  yang ada di tangannya.
“terimakasih anakku.. meskipun kamu tidak bisa merasakan apa yang sudah kamu berikan kepada keluarga.. ibu yakin nak.. kamu bahagia disana. Harapanmu sudah terkabul Reyna. Ibu bangga nak.. padamu.”
Airmata menetesi bingkai itu. Jemari perempuan itu menyusuri setiap foto. Mencoba seolah-olah dia benar-benar bisa menyentuh wajah orang yang ada dalam foto itu. Perempuan itu memejamkan mata. Berusaha meraskan bagaimana ketika dia bisa menyentuh tubuh anaknya ketika masih hidup. Air matanya semakin deras. Tiba-tiba tangan lembut menyentuh pundaknya.
“kakak pasti bahagia bu… ibu jangan menangis, karena itu akan membuat kakak sedih disana. Penderitaannya sudah berakhir karena selama ini kakak menahan kesakitan yang sangat dalam yaitu kangker otak di kepalanya.” Annisa merangkul ibunya. Berusaha menguatkan Ibu yang paling dicintainya itu. Dia sendiri berusaha menahan air matanya.
“begitu tidak inginnya dia menyusahkan keluarga sampai tidak pernah mengeluh nak.. itulah yang paling ibu sesali. Kakakmu berusaha tetap kuat dan tersenyum, setiap hari mengais sampah untuk membantumu menjadi seperti sekarang. Berjanjilah nak,, kamu akan meneruskan mimpi kakakmu.. membantu yang tidak mampu. Menjadi dokter yang jujur dan bijaksan.” Ibu mengelus pundak Annisa
“pasti bu.. tanpa kakak Annisa da Ahzan tidak akan bisa seperti sekarang ini. Annisa tidak akan bisa jadi dokter, dan Ahzan tidak akan bisa jadi pengacara. Semua itu karena usaha kakak dan kebiasaannya menulis sampai akhirnya tulisannya menjadi banyak. dan dibuat menjadi buku dan bahkan ada yang di filmkan. Semua itu kakak lakukan meski dengan pensil yang ditemukannya disampah dan kertas sobek yang dibuang orang. Kakak adalah segalanya untuk kita.. karena kakak juga, Abang Fahriz berubah dan mau membantu bapak menjalankan pabrik. Allah telah menentukan jalan kita kearah yang lebih baik seperti sekarang. Dan kita harus memanfaatkannya dengan baik dan tidak lupa untuk bersyukur.”
Annisa menggenggam erat tangan ibunya, sebelah tangannya menghapus air mata ibunya. Ibu dan anak itu masih terdiam mengenang apa yang terjadi. Reyna berhasil bernegosiasi dengan Tuhan.
Ya, selama ini sudah hampir lima tahun dia menyembunyikan penyakitnya. Dia memilih untuk menanggung sendiri penyakit itu dan menuliskan kisahnya dalam lembaran-lembaran kertas bekas. Reyna memang senang menulis, sejujurnya dia bercita-cita menjadi penulis. Waktu senggang saat mengais sampah, dia gunakan untuk mengukir imajinasinya dalam tulisan. Saat dia ditemukan tidak bernyawa di Musholla bersama tulisannya, Annisa baru sadar, gumpalan-gumpalan kertas yang dikumpulkan kakaknya di dalam kardus itu adalah karya tulisannya. Tanpa berfikir panjang, setalah sebulan kakaknya di makamkan Annisa menyalin tulisan itu dan memasukkannya dalam blog, sampai akhirnya ada penerbit yang mau menjadikan tulisan itu sebagai novel. Tulisan Reyna menjadi best seller dan bahkan dibuat film. Dari situlah kehidupan keluarga Reyna membaik. Bahkan sangat membaik setelah Annisa dan Ahzan mendapat beasiswa kuliah di luar negeri.
Sementara Fahriz, semmenjak Reyna meninggal dan membaca tulisan Reyna membuatnya tersadar bahwa selama ini apa yang dilakukannya tidak sebanding dengan apa yang dilakukan Reyna. Dia mulai berubah dan mau membantu pabrik ayahnya.
Mereka berdua masih berkutat dengan kejadian selama Reyna pergi, sampai tiba-tiba sebuah suara mengagetkann mereka.
“Assalamualaikum… Ibu,, Bapak,, Kakak,, Abang,, Ahzan pulang…”
Teriakan itu dari Ahzan yang baru saja pulang dari Amerika. Sengaja tidak memberitahu keluarga karena ingin membuat kejutan. Mendengar suara itu Annisa dan Ibunya sama-sama mengarahkan pandangannya kearah pintu. Melihat siapa yang datang, segera mungkin Ibu dan anak itu memburu Ahzan. Ahzan mencium tangan ibunya dan memeluknya. Ibunya menangis terharu. Ahzan memandang kakaknya. Annisa hanya mengangkat bahu dan tersenyum sambil menunjukkan foto kakak mereka. Ahzan mengelus punggung ibunya dan menenagkannya.
“ibu kenapa melihat Ahzan malah menangis?”
Cepat-cepat perempuan tua itu menghapus air matanya dan tersenyum
“jangan bilang ibu menangis karena mengingat kakak Reyna lagi.”
“tidak-tidak,, ibu terharu dan merasa sangat kangen sama anak ibu yang ganteng ini. Sudah satu tahun kamu tidak pulang menemui ibu setelah wisuda itu.”
“maaf ibuku sayang .. Ahzan harus menyelesaikan proyek disana.. dan sekarang sudah selesai. Ahzan memutuskan untuk bekerja di Indonesia.”
“benarkah?? Syukurlah kalau begitu.”
“benar ibu tidak apa-apa? Masih teringat kakak?? Ahzan juga masih sering teringat kakak.. dan Ahzan selalu mendo’akan kakak, tidak baik berlarut-larut sedih selama ini.. Ahzan hanya menangis mengingat kakak di hari-hari tertentu saja. Beda halnya dengan ibu. Selama empat tahun ini ibu selalu menangis setiap hari ditambah sehabis sholat. Kan itu tidak baik bu.. kakak pasti sedih disana.”
“kamu tau dari mana ibu menagis setiap hari?? Pasti kakakmu Annisa yang bilang.” Ibu memelototi anak gadisnya itu.
“sudahlah ibu.. katanya mau ke bank..” Annisa berusaha ngeles
“oh iya. Sampai lupa. Bagaimana kalau kita ke pabrik sekalian jemput Abang dan Bapakmu. Lalau makan malam di luar?.”
“ide bagus bu,, Ahzan yang bawa mobil ya..?”
“ok!! Asal jangan ngebut ya..?”
Merekapun meninggalkan rumah. Sambil berlalu, hati Annisa berkata. “kakak,, terimakasih untuk semuanya. Sekarang bukan bapak yang melindungi kami.. tapi kamilah yang akan melindungi Bapak dan Ibu..”
¥αΩŠα

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer

Pengikut