Aku adalah seorang gadis yang sedang
diliputi kegelisahan. Kepalaku saat ini sedang dipenuhi bermacam-macam pikiran
yang aku sendiri hampir gila karenanya.
Cinta! Kata itu sangat mudah diucapkan
dan beragam pengertian berkecamuk di dalam satu kata itu. Baik itu dalam bentuk
keindahan sampai pada yang menyakitkan. Berada diantara yang indah dan
menyakitkan itulah posisiku sekarang.
Cinta! Begitu mudah datang dan pergi, benarkah? Seandainya hal itu
terjadi padaku mungkin aku tidak akan menjadi seperti sekarang ini. Begitu
sulitnya untukku mencintai seseorang. Bahkan aku sendiri juga sangat kesulitan
untuk mengisahkan “cinta” dalam hidupku. Terlalu ironis dan mendramatisir. Tapi
kenyataan itulah yang terjadi.
Keluarga! Sama halnya dengan cinta.
Banyak sekali kata yang dapat
diungkapkan untuk mengartikannya. Ada kebahagiaan dan benci. Salah satunya
adalah, ada yang bilang, keluarga adalah tempat kebahagiaan seseorang.
Benarkah? Tapi tidak sedikit juga saat ini yang tidak merasakan kebahagiaan
dalam sebuah keluarga. Ada juga pepatah
mengatakan darah lebih kental daripada air. Namun kenyataan bahwa manusia lebih
membutuhkan air daripada darah.
Cinta dan keluarga, hidup dan mati
(kehidupan). Berisi kebaikan dan kejahatan, benci dan sayang (suka). Yah,,
itulah siklus hidup. Di dalam cinta dan keluarga ada rasa,, rasa yang
mengelilinginya. Berputar seeperti bumi diikuti bulan mengelilingi matahari.
Bisa jadi bumi itu kebaikan dan bulan kejahatan, bisa jadi pula bumi itu benci
dan bulan itu sayang (suka). Selamanya kedua elemen itu memenuhi kehidupan,
bersitegang mengeluarkan aura dengan bermacam warna. Bagi orang yang mampu
memperbanyak aura kebaikan dan kasih sayang, tidak akan ada celah untuk benci
dan kejahatan memegang kendali. Namun,, apabila justru sebaliknya, akan membuat
kehidupan tidak akan baik. Memang sulit menjadikan sesuatu menjadi baik
sempurna. Karena manusia adalah makhluk yang tamak, manusia adalah makhluk
egois. Meskipun manusia diberi akal pikiran, adakalanya pikiran itu
dikendalikan nafsu dan aura kejahatan sehingga tidak bisa dikendalikan. Kita
tidak bisa menilai seseorang dalam beberapa kali bertemu. Namun, kita bisa
mempercayai seseorang jika kita sudah mengenalnya dengan baik. Dan sekarang
semuanya itu menyelimutiku. Membuatku dalam keadaan yang akupun sendiri sulit
untuk memilih.
Cinta dan keluarga, hal itu yang
sekarang menjadi momok pikiranku, membuatku frustasi dan putus asa. Karena dari
dua kata itu yang seharusnya bisa terjadi benang kebahagiaan diantara keduanya,
justru sebaliknya dalam hidupku. Bahkan benang itu tidaklah benang perantara
kedamaian melainkan bagaikan dua kutub magnet yang tidak bisa bersatu. Kilatan
energy listrik yang bertolak belakang diantara keduanya membuat diriku yang
berada ditengah terombang ambing tidak dapat mengimbanginya ataupun
menyatukannya.
Aku tidak tahu harus mengawali kisah ini
dari mana, tapi yang pasti kisah yang aku tulis saat ini adalah bagian
imajinasi dari sebuah kisah nyata dalam hidupku. Aku sendiri merasa tidak yakin
dengan apa yang aku tulis. Aku hanya ingin melampiaskan masalah-masalah yang
mengganggu pikiranku menjadi sesuatu yang lebih baik.
Aku memang bukan Tuhan yang bisa dengan
mudah menentukan takdirku sesuai keinginanku. Aku sendiri tidak tahu apakah kisah
dalam hidupku akan berakhir sesuai dengan keinginanku. Sejujurnya aku
menginginkan kisahku akan berakhir dengan bahagia, tapi otak dan pikiranku
terlalu takut untuk membayangkan dan mengharapkannya. Dan yang terjadi justru
sebaliknya. Dipikiranku yang muncul adalah hal-hal yang buruk yang justru
membuatku terpuruk sambil mengeluarkan air mata, sebelumnya sudah kukatakan aku
depresi, jadi wajar hal itu yang terlintas dipikiranku.
Diawali dengan suatu hari…
Keadaan cuaca memang tidak panas. Bahkan
sekarang mendung karena memasuki awal bulan Januari. Tapi seperti yang aku
katakan sebelumnya. Pikiran dan hatiku saat ini sedang labil dan bergejolak,
bisa dibilang kacau. Singkat cerita, saat ini aku menjalani hubungan jarak jauh
(baca di karyaku sebelumnya) karena keluargaku yang tidak sepenuhnya menyetujui
pria yang aku pilih. Jadi beginilah yang terjadi. Aku bahkan tidak diizinkan
menghabiskan liburan bersamanya. Akhirnya aku kena imbasnya, kekasihku marah.
Memang, dia tidak menunjukkannya secara langsung seperti dulu, mungkin karena
dia sudah berfikir dewasa. Tapi dia tidak sadar, sikapnya telah menunjukkan jika
dia marah padaku. Akhir-akhir ini dia tidak pernah sms atau telfon. Jika
kuhubungi hanya seminggu sekali diangkat.
Bagaimana mungkin aku harus berfikir
positif tentang sikapnya itu, sementara keadaan kami diibaratkan aku di kutub
selatan dan dia di kutub utara. Terus… dan terus aku memikirkannya, merindukan
suaranya tapi SIAL!! Kenapa justru dia tetap mengacuhkanku. Dan hari ini, aku
memutuskan untuk jalan-jalan disekitar tempat yang dulu adalah tempat favorit
kami tempat dimana dia pernah tinggal.
Sakit, sesak, kecewa, dan marah.
Sementara semua kenangan sedang diputar otakku memantulkannya di mataku dengan
jelas setiap kejadiannya sampai aku tidak sadar sejauh mana kakiku berjalan.
Aku terus seperti raga yang tak bernyawa, berjalan menunduk, sesekali menatap
langit, tetap berjalan sampai tiba-tiba…
“BRAKK!!!”
Seketika gelap namun aku masih merasakan
kesadaran untuk beberapa saat. Banyak sekali bintang di kepalaku, dan terakhir
yang aku tahu ada sesosok wajah yang begitu mengkhawatirkanku dan mengangkat
tubuhku sambil berteriak-teriak tidak jelas.
§
“Hei,
kau baik-baik saja?”
Ketika kubuka mataku,
kalimat itu yang pertama aku dengar. Samar-samar aku melihat wajah itu. Sesaat
yang terlintas dalam benakku adalah “Shun Makabe? benarkah?!!” aku tidak
bermimpi kan? Wajahnya sangat tampan begitu terpesona aku tidak menghiraukan
pertanyaannya dan lupa apa yang sudah terjadi padaku. Sampai dia menegurku
untuk yang kesekian kali.
“Ah
ya, aku baik-baik saja. Hahaha”. Jawabku sambil berusaha untuk bangun dan
bertanya dalam hati apa maksud pertanyaan pria ini. Tapi…
“Adududuhhhh….
Kenapa kakiku seperti diikat dengan karung sih...dan…ah,,,??? Sakit sekali…..”
ketika kulihat kakiku. Tak palang aku syok setengah mati.
“Apa
ini? Oh… kakiku kenapa harus diikat seperti ini? Apa yang terjadi pada kakiku
yang mulus?? Aduh…” entah apa yang terjadi
yang jelas aku benar-benar terkejut melihat kakiku menjadi sebesar kaki
gajah dan di bebat seperti mumi. Aku meracau dan mengoceh, aku sendiri bingung
mendengar apa yang aku ocehkan tidak jelas. Ketika aku sadar. Aku menatap tajam
ke arah cowok yang sedang duduk didepanku dengan raut wajah bersalah itu. Dan
aku menemukan jawabannya. Kasihan
melihatnya, akhirnya aku memutuskan untuk mengenyahkan kemarahanku dan
menenangkan pikiranku sendiri.
“sudahlah..
hufh,,tidak usah merasa bersalah begitu… hehehe. Lagipula aku hanya sakit
seperti ini beberapa hari juga sembuh”.
Benarkah
beberapa hari sembuh? Melihat keadaan
kakiku yang seperti ini. Aku merasa tidak yakin dengan kalimat yang aku ucapkan
sendiri itu. Tapi apa boleh buat, melihat wajah dihadapanku yang merasa
bersalah membuatku merasa tidak tega melihatnya.
“Maaf..”
laki-laki itu meminta maaf sambil menunduk
“Sudahlah..
akukan sudah bilang tadi, tidak apa-apa aku baik-baik saja”.
“Maaf..
tapi sepertinya keadaanmu tidak sesuai yang kau harapkan. Kata dokter tidak
cukup satu tahun.. paling cepat dua tahun setengah atau bisa lebih untuk bisa
sembuh total. Jadi… aku benar-benar minta maaf. Aku akan tanggung jawab atas
semuanya”.
Aku
tidak bisa berkata apa-apa. Dua kali lipat keterkejutanku dari yang sebelumnya.
“Apa dia bilang? Sampai bertahun-tahun? Tahun?? Bahkan tidak lagi bulan tapi
tahun? ya Tuhan…mimpi apa aku semalam. Kenapa nasibku buruk sekali. Cobaan apa
lagi ini?. Baru saja satu maslah belum selesai, kenapa ada masalah lagi. Apa
yang sudah diperbuat nenek moyangku diwaktu masih hidup sih? Kenapa aku jadi seperti
ini. Kejahatan apa yang sudah dilakukan beliau sampai aku yang entah keturunan
yang keberapa dari generasi yang bahkan aku juga tidak tahu ini menanggung
akibatnya”. Akhirnya mungkin karena terlalu banyak berfikir tubuhku sangat
lemas dan kepalaku sakit. Selanjutnya aku tidak tahu apa yang terjadi.
§
Aku
benar-benar panik. Perempuan ini pingsan lagi, mungkin dia benar-benar syok
karena ternyata kakinya tidak sebaik yang dipikirkannya. Aku sendiri juga
bingung bahkan bahkan aku belum bisa menghubungi keluarganya karena dalam
tasnya dia tidak membawa identitas KTP juga tidak membawa ponsel.
“Aduh,,
bagaimana ini? Kata dokter dia mengalami depresi dan syok yang berlebihan atas
kejadian ini. Apa yang harus aku lakukan?
Aku sendiri hamper tidak percaya aku telah menabraknya. Semoga dia tidak
menuntut dan membawaku ke dalam jeruji penjara.
Sesaat
dalam keheningan di kamar rumah sakit. Laki-laki itu masih tetap menunggu gadis
yang sedang terbaring. Dia memperhatikan gadis yang tengah tertidur itu. Dia
sangat terkejut ketika melihat gadis yang tertidur itu mengeluarkan air mata.
“Apakah
dia menangis?”
Aku
merasa ada kesedihan di dalam air amatanya. “apakah karena masalah kakinya?
Apakah masalah ini begitu membuatnya sedih? Oh, aku benar-benar merasa bersalah. Maafkan aku”.
Saat
itu juga dia menghapus air mata gadis itu dan berjanji pada dirinya sendiri
akan bertanggung jawab sampai gadis itu sembuh.
§
Tony..
aku bermimpi bertemu dengannya. Kenapa terlihat sedih.. kenapa mengacuhkanku
dengan wajah sedih begitu? Bahkan tony
tidak mau tersenyum padaku. Apakah benar-benar sudah tidak peduli padaku? Aku sakit tony… barusan ada yang menabrakku.
Kakiku patah..tidakkah kau kasihan padaku.. kenapa kau menjauh tony,, tony,,
tunggu aku..aku mohon tunggu..aku benar-benar menangis dan terpukul. Apakah
hubungan kita seburuk ini? Kenapa? Apa slahku? .
“Tony…
tunggu aku…tunggu.. hiks,, hiks,, tunggu aku tony.. aku mohon..”
Ah,
gadis ini mengigau. Aku terkejut, dia menyebut nama seseorang. “Jadi bukan
karena kecelakaan ini dia menangis? Tapi ternyata memang ada masalah lain.
Mungkin kata dokter dia sedang depresi itu karena masalah yang sedang dihadapinya
ya.. aku semakin kasihan padanya.
“Uh…”
“Ah,
akhirnya kamu bangun juga setelah pingsan dua jam”.
“Hah?
Apakah selama itu?”.
“Iya..
mungkin, itu karena kamu terlalu syok dengan kejadian ini. Aku minta maaf”.
“Em…
daritadi kau menungguku di sini?”.
“Iya..
aku fikir aku bertanggungjawab. Oh ya, aku tidak bisa menghubungi keluargamu
karena aku tidak menemukan identitasmu. Dan lagi,, aku minta maaf juga telah
melihat tasmu tadi waktu mencari identitasmu”.
“Oh..
tidak apa-apa. Tapi…syukurlah kalau kamu belum menghubungi orangtuaku.
Sejujurnya aku justru merasa lega karena aku tidak mau membuat mereka
khawatir”.
“Tapi
meskipun begitu, bukankah kamu harus menghubungi mereka? Toh nanti kalau kau
pulang ke rumah mereka juga akan mengetahuinya”.
“Yah,
sudahlah. Masalah orangtuaku biar aku yang menjelaskan ke mereka sendiri”.
“Oh..
yasudah, baiklah”.
“Ok.
Sekarang aku mau pulang”.
“Biar
aku antar”.
“Tidak
perlu, aku bisa pulang sen…”
Hup!
Tiba-tiba aku sudah ada dipelukannya. Uh.. dia menyebalkan. Seenaknya menyentuh
orang. Kenapa ini? Aku tidak mau begini. Aku.. seperti seseorang yang
mengkhianati kekasihnya dengan sepert ini. Oh.. Tony akan marah padaku jika dia
melihanya.
“kumohon
turunkan aku”.
“Bagaimana
bisa. Kamu belum bisa jalan, tidak mungkin aku membiarkanmu”.
“Hah?
Apakah kakiku separah itu sampai aku tidak bisa jalan?”.
“Aku
kan sudah bilang butuh tahunan untukmu bisa berjalan lagi”.
“Aisss..
apa-apaan ini. Bagaimana bisa seperti ini? Bagaimana kau menabrakku sampai aku
seperti ini? Ayo, katakan!! Bagaimana bisa hah? Ya Tuhan…”
“Aku
akan jelaskan setelah kita pulang dan kamu sudah tenang. Tolong simpan tenagamu
itu untuk nanti ketika kau sudah sembuh. Aku akan mengizinkanmu untuk memukulku
sepuasmu. Nah.. sekarang ayo kita pulang”.
“
uh,” tanpa sadar aku mengeluh seperti itu sambil memeluknya. Kenapa? Kenapa
harus ada laki-laki lain yang menyentuhku? Lihatlah apa yang sudah kau lakukan
Tony. Bahkan sekarang kau tidak peduli aku disentuh laki-laki lain, mana
janjimu, Tony, kau benar-benar menyebalkan. Aku membencimu, kau tau aku tidak
suka disentuh laki-laki lain kecuali kau. Kau benar-benar bodoh.
“Apa?
Kau bilang aku bodoh?”
“ah,
apa aku mengatakan sesuatu??”
“dasar..jelas-jelas
kau mengataiku bodoh barusan”
“ah..
itu hanya perasaanmu saja mungkin, hahaha”
Sial, apa aku berbicara saat melamun
tadi? Huh, tapi sudahlah, toh dia memang bodoh telah menabrakku.
§
" Hei, kenapa kau tidak membawaku dengan kursi roda saja? bahkan sampai naik lift pun kau masih menggendongku? apa jangan-jangan kau ini laki-laki kurang ajar yang suka cari kesempatan?" didalam lift aku tidak tahan untuk tidak bertanya
" hahahahaha,, terserah aku mau menganggapku apa. apakah aku terlihat seperti itu? jika benar, ketika menabrakmu aku tidak akan membawamu kerumah sakit tetapi kerumahku. "
"apakah pertanyaanku itu seperti lelucon sampai kau tertawa."
"mungkin, hahaha"
"aneh"
butuh waktu lima belas menit untuk sampai ke parkir mobil, bagiku sudah seperti seratus abad aku digendongnya, membuatku tidak nyaman. dia memasukkanku kedalam mobilnya. hmmm aku bahkan tidak berpikir bahwa orang yang menabrakku adalah orang kaya. memimpikannya saja tidak pernah, aku benar-benar sial! aku paling tidak suka berhubungan dengan orang kaya, apalagi laki-laki. mereka terlalu sombong menurutku. mereka tidak pernah peduli dengan orang miskin.
aku tidak peduli dengan dia yang sedang konsentrasi menyetir, aku memejamkan mata, mengingat mengapa aku bisa ditabrak laki-laki aneh ini. sejenak,,aku mulai teringat. saat itu aku sedang kacau dan bermaksut untuk jalan-jalan sambil mengingat kenanganku bersama Abie, tempat dimana kami mengukir kenangan manis dan pahit. saat itu aku berjalan sambil melamun, ketika aku akan menyebrang tiba-tiba ada sebuah mobil berwarna putih dengan kecepatan tinggi menabrakku. uh, sepertinya itu bukan hanya kesalahan dia, aku juga yang ceroboh menyebrang sambil melamun.
" Aku rasa,, aku ahrus minta maaf padamu" kubuka mataku bersama kalimat itu kuucapkan padanya
"untuk apa?? aku yang salah, Aku tau jalanan itu tidak ramai oleh kendaraan, makanya aku membawa mobil seenaknya, aku yang salah ngebut di jalan."
" yah, kita berdua sama-sama salah akrena waktu itu juga aku sedang melamun."
"oh ya?? jadi hukumanku sedikit lebih ringan nieh?"
"maksutmu?? aku tidak menghukummu. aku kan sudah bilang, kau tidak perlu bertanggung jawab karena aku baik-baik saja"
"iya aku ingat, tapi kamu tau kan UU dinegara kita ini, walaupun yang salah itu adalah orang yang membawa sepeda sekalipun, tetap saja yang membawa mobil yang bertanggung jawab".
"em... begitu, tapi tidak berlaku untukku. jadi kau bebas".
"tidak,,aku masih belum bebas, sebelum kakimu sembuh".
"ternyata kau orang yang keras kepala".
"terserah kau menilaiku seperti apa, karena aku bukanlah orang kaya seperti yang kau pikirkan yang tidak mau bertanggung jawab".
sekilas aku berfikir, mungkin dia orang yang baik
"oh ya, apakah aku benar-benar tidak diizinkan berjalan meski memakai tongkat??"
"coba aja, apakah kau bisa berjalan meski memakai tongkat".
"loh? kau ini, aku bertanya padamu dengan serius, menyebalkan! masih beruntung kau tidak aku tuntut! huh".
"hahaha, kau ini cepat sekali marah ya? kau bahkan tidak sadar, saat kau marah mukamu lucu sekali. hahahaha"
"Kau pikir ini lelucon. sudahlah, turunkan aku disini saja. dari awal aku memang tidak suka denganmu".
"Hei, hei kenapa begitu? aku minta maaf deh.."
"Sudah, turunkan saja aku disini, toh jalan ini tidak jauh dari rumahku. Aku akan jalan sendiri"
"Aku bilang jangan keras kepala".
Sejujurnya aku bingung. jika butuh waktu lama, sebelum orang tuaku pulang dari luar negeri aku masih belum sembuh itu akan membuat mereka marah. sementara jika aku menghubungi mereka, mareka juga akan marah karena aku sudah mengganggu bisnis mereka. hufh, mungkin lebih baik aku tetap diam. terlintas difikiranku akan sesuatu.
"Hei, apa aku bisa minta tolong padamu?"
"Panggil aku Frey, daritadi kau memanggilku hei, dan tidak mau bertanya siapa namaku. yah, baru kali ini ada perempuan melihatku tapi mengacuhkanku. kau ingin minta tolong apa?"
"huh, memangnya kau fikir dirimu aktor terkenal, sehingga aku harus terpesona padamu? dimataku kau tidak terlihat tampan ataupun keren. jadi jangan berharap aku seperti wanita" yang kau bicarakan itu. Antarkan aku kerumah temanku"
"hem,,, begitu ya? hanya kau yang bilang bahwa aku tidak tampan. sepertinya kecelakaan ini membuat matamu rabun ya? dimana rumahnya?"
"Hei, jaga ucapanmu itu, mataku masih normal tau. mungkin wanita-wanita itu yang rabun. huh, kau terlalu besar kepala. lampu merah di depan belok kanan."
"oh ya? masa' sih, satu banding seratus orang yang bilang aku tampan. tidak bisa dipercaya yang seratus itu rabun semua. hahaha"
"terserahlah, kau terlalu narsis"
"kita lihat saja apakah kau benar-benar tidak akan tertarik padaku nanti"
"sesukamu sajalah"
pertama melihatnya sih, bisa dibilang dia memang tampan. bahkan aku sempat mengira sebelum kesadaranku hilang saat kecelakaan kalau dia adalah tokoh komik kesukaanku. tapi melihat sikapnya yang narsis, aku jadi enggan mengakuinya dan aku tidak suka dengan sikap seenaknya dia padaku. lagipula dimataku hanya ada satu orang yang berarti bagiku. Abie aku rindu padamu.
"stop! sudah sampai. kau bisa menurunkanku disini, sementara aku akan masuk sendiri. oh ya, terima kasih kau bisa pulang sekarang"
"hah? benar tidak apa-apa?"
"kau tidak dengar apa yang akan kukatakan tadi?"
"em,, yasudah, turunlah!"
aku takut sekali, mungkin saat dirumah sakit aku tidak khawatir karena dia menggendongku. tapi sekarang aku tidak yakin apa aku bisa bangun sendiri. pelan-pelan aku menggerakkan kaki kiriku yang terluka. seketika nyeri menjalar diseluruh tubuhku sampai ke ubun-ubun rambutku. "ais" baru juga digerakkan kenapa sakit sekali.
"aduh" rintihku pelan, sial! apa aku benar-benar tidak bisa jalan? menyebalkan!.
"bagaimana, sakit? melihat ekspresimu sepertinya iya. digerakkan saja sakit, apalagi jalan. butuh bantuan?"
"tidak,, terimakasih, aku akan berusaha sendiri"
sepertinya dia tidak menggubrisku, dia sudah ada disamping jendela dan memintaku menurunkan jendela mobil.
"apa? kau mau memaksa menggendongku lagi? aku tidak mau, tidak mau dan tidak mau!"
"hem..segitunya kau menolakku. aku ingin memastikannya saja apakah kau sanggup berdiri. bahkan jika saat ini kau bisa berjalan. aku akan bersyukur. ayo"
aku berusa mengangkat kakiku untuk turun. tapi jangankan terangkat, menggesernya saja aku tidak sanggup karena sakit sekali".
"huh, aku bilang juga apa. tulang patah kan tidak seperti luka bakar. sakitnya luar biasa, jadi wajar saja kalau tidak bisa bergerak. jadi bagaimana ini?"
sangat, sangat, dan sangat menyebalkan" entah kenapa aku menangis sambil mengucapkan kata-kata itu. aku merasa sedih, hatiku sakit. kenapa Tuhan menghukumku seperti ini. disaat orang yang aku sayang tidak peduli padaku, sehingga tidak tahu keadaanku seperti ini. disaat jarak memisahkan aku dan dia. kenapa?!!
"tunggulah disini. jika kau tidak mau aku gendong, aku yang akan masuk kerumah temanmu. rumahnya yang pagarnya bercat hitam itu kan? siapa namanya? aku akan membawanya kesini, jadi berhentilah menangis. aku tidak tahan melihat perempuan menangis".
"namanya Airin" jawabku lirih sambil menghapus air mataku
"dan namamu siapa?"
"hah? apa perlu namaku juga? untuk apa?"
"jelas dong. mana mungkin aku memintanya kesini tanpa menyebutkan namamu, aku tidak mau dainggap penculik. kau yang membutuhkannya kan? lagi pula aku tidak mengenalnya dan apa susahnya kau menyebutkan namamu, kita sudah banyak bicara tapi aku tidak tahu namamu. "
"raisa"
"hem.. Raisa ya,, setidaknya namamu lebih cantik dari orangnya."
"kau ingin dipukul ya?"
setelah itu dia pergi dari hadapanku sambil tertawa. "menyebalkan". beberapa menit kemudian dia menucul bersama temanku. Airin yang saat itu kakinya juga sakit akibat kecelakaan berjalan terseok-seok kearahku. aku jadi berfikir, kami berjodoh karena mengalami hal yang sama. hanya saja dia patah dibagian paha atas sebelah kanan, sementara aku pergelangan kaki kiri. kami berteman sejak masuk universitas. namun dia berhenti karena kecelakaan yang menimpanya, sementara aku masih kuliah, tapi kami tetap berteman baik.
§
"Sudah, turunkan saja aku disini, toh jalan ini tidak jauh dari rumahku. Aku akan jalan sendiri"
"Aku bilang jangan keras kepala".
Sejujurnya aku bingung. jika butuh waktu lama, sebelum orang tuaku pulang dari luar negeri aku masih belum sembuh itu akan membuat mereka marah. sementara jika aku menghubungi mereka, mareka juga akan marah karena aku sudah mengganggu bisnis mereka. hufh, mungkin lebih baik aku tetap diam. terlintas difikiranku akan sesuatu.
"Hei, apa aku bisa minta tolong padamu?"
"Panggil aku Frey, daritadi kau memanggilku hei, dan tidak mau bertanya siapa namaku. yah, baru kali ini ada perempuan melihatku tapi mengacuhkanku. kau ingin minta tolong apa?"
"huh, memangnya kau fikir dirimu aktor terkenal, sehingga aku harus terpesona padamu? dimataku kau tidak terlihat tampan ataupun keren. jadi jangan berharap aku seperti wanita" yang kau bicarakan itu. Antarkan aku kerumah temanku"
"hem,,, begitu ya? hanya kau yang bilang bahwa aku tidak tampan. sepertinya kecelakaan ini membuat matamu rabun ya? dimana rumahnya?"
"Hei, jaga ucapanmu itu, mataku masih normal tau. mungkin wanita-wanita itu yang rabun. huh, kau terlalu besar kepala. lampu merah di depan belok kanan."
"oh ya? masa' sih, satu banding seratus orang yang bilang aku tampan. tidak bisa dipercaya yang seratus itu rabun semua. hahaha"
"terserahlah, kau terlalu narsis"
"kita lihat saja apakah kau benar-benar tidak akan tertarik padaku nanti"
"sesukamu sajalah"
pertama melihatnya sih, bisa dibilang dia memang tampan. bahkan aku sempat mengira sebelum kesadaranku hilang saat kecelakaan kalau dia adalah tokoh komik kesukaanku. tapi melihat sikapnya yang narsis, aku jadi enggan mengakuinya dan aku tidak suka dengan sikap seenaknya dia padaku. lagipula dimataku hanya ada satu orang yang berarti bagiku. Abie aku rindu padamu.
"stop! sudah sampai. kau bisa menurunkanku disini, sementara aku akan masuk sendiri. oh ya, terima kasih kau bisa pulang sekarang"
"hah? benar tidak apa-apa?"
"kau tidak dengar apa yang akan kukatakan tadi?"
"em,, yasudah, turunlah!"
aku takut sekali, mungkin saat dirumah sakit aku tidak khawatir karena dia menggendongku. tapi sekarang aku tidak yakin apa aku bisa bangun sendiri. pelan-pelan aku menggerakkan kaki kiriku yang terluka. seketika nyeri menjalar diseluruh tubuhku sampai ke ubun-ubun rambutku. "ais" baru juga digerakkan kenapa sakit sekali.
"aduh" rintihku pelan, sial! apa aku benar-benar tidak bisa jalan? menyebalkan!.
"bagaimana, sakit? melihat ekspresimu sepertinya iya. digerakkan saja sakit, apalagi jalan. butuh bantuan?"
"tidak,, terimakasih, aku akan berusaha sendiri"
sepertinya dia tidak menggubrisku, dia sudah ada disamping jendela dan memintaku menurunkan jendela mobil.
"apa? kau mau memaksa menggendongku lagi? aku tidak mau, tidak mau dan tidak mau!"
"hem..segitunya kau menolakku. aku ingin memastikannya saja apakah kau sanggup berdiri. bahkan jika saat ini kau bisa berjalan. aku akan bersyukur. ayo"
aku berusa mengangkat kakiku untuk turun. tapi jangankan terangkat, menggesernya saja aku tidak sanggup karena sakit sekali".
"huh, aku bilang juga apa. tulang patah kan tidak seperti luka bakar. sakitnya luar biasa, jadi wajar saja kalau tidak bisa bergerak. jadi bagaimana ini?"
sangat, sangat, dan sangat menyebalkan" entah kenapa aku menangis sambil mengucapkan kata-kata itu. aku merasa sedih, hatiku sakit. kenapa Tuhan menghukumku seperti ini. disaat orang yang aku sayang tidak peduli padaku, sehingga tidak tahu keadaanku seperti ini. disaat jarak memisahkan aku dan dia. kenapa?!!
"tunggulah disini. jika kau tidak mau aku gendong, aku yang akan masuk kerumah temanmu. rumahnya yang pagarnya bercat hitam itu kan? siapa namanya? aku akan membawanya kesini, jadi berhentilah menangis. aku tidak tahan melihat perempuan menangis".
"namanya Airin" jawabku lirih sambil menghapus air mataku
"dan namamu siapa?"
"hah? apa perlu namaku juga? untuk apa?"
"jelas dong. mana mungkin aku memintanya kesini tanpa menyebutkan namamu, aku tidak mau dainggap penculik. kau yang membutuhkannya kan? lagi pula aku tidak mengenalnya dan apa susahnya kau menyebutkan namamu, kita sudah banyak bicara tapi aku tidak tahu namamu. "
"raisa"
"hem.. Raisa ya,, setidaknya namamu lebih cantik dari orangnya."
"kau ingin dipukul ya?"
setelah itu dia pergi dari hadapanku sambil tertawa. "menyebalkan". beberapa menit kemudian dia menucul bersama temanku. Airin yang saat itu kakinya juga sakit akibat kecelakaan berjalan terseok-seok kearahku. aku jadi berfikir, kami berjodoh karena mengalami hal yang sama. hanya saja dia patah dibagian paha atas sebelah kanan, sementara aku pergelangan kaki kiri. kami berteman sejak masuk universitas. namun dia berhenti karena kecelakaan yang menimpanya, sementara aku masih kuliah, tapi kami tetap berteman baik.
§